sahabat
Rabu, 09 Januari 2013
Jumat, 07 September 2012
Golden Time subtitle indonesia
Details
- Title: 골든타임 / Golden Time
- Genre: Medical, romance
- Episodes: 20
- Broadcast Network: MBC
- Broadcast period: 2012-July-09 to TBA
- Air time: Monday & Tuesday 21:55
Synopsis
Drama ini diatur dalam latar belakang dari ruang gawat darurat di rumah sakit. Kang Jae In (Hwang Jung Eum) adalah penerus dari Ikhyo Foundation, yang memiliki universitas medis dan lima rumah sakit, tapi dia tidak peduli dengan fakta bahwa ia adalah penggantinya. Jae In hanya peduli tentang mantan pacarnya.
Download Link Subtile
[Download K-Drama] Golden Time (2012)
Subtitel indonesia Golden Time E01 : putra subtitleSubtitel indonesia Golden Time E02 : putra subtitle
Subtitel indonesia Golden Time E03 : putra subtitle
Subtitel indonesia Golden Time E04 : putra subtitle
Subtitel indonesia Golden Time E05 : putra subtitle
Subtitel indonesia Golden Time E06 : putra subtitle
Subtitel indonesia Golden Time E07 : putra subtitle
Subtitel indonesia Golden Time E08 : putra subtitle
Subtitel indonesia Golden Time E09 : putra subtitle
Subtitel indonesia Golden Time E10 : putra subtitle
Subtitel indonesia Golden Time E11 : putra subtitle
Subtitel indonesia Golden Time E12 : putra subtitle
Subtitel indonesia Golden Time E13 : putra subtitle
Subtitel indonesia Golden Time E14 : putra subtitle
Subtitel indonesia Golden Time E15 : putra subtitle
Subtitel indonesia Golden Time E16 : putra subtitle
Holy Land / 홀리랜드 subtitle
Judul: 홀리랜드 / Holy Land
Genre: Action
Episode: 4
Siaran jaringan: OCN
Periode siaran: 28 April 2012 - 19 Mei 2012
Waktu tayang: Sabtu, Jam 23:00 (Waktu Korea Selatan)
Sinopsis Holy Land:
Film TV tentang seorang remaja tunawisma yang mengembara di jalan-jalan dan berhenti sekolah tetapi mampu menebus dirinya melalui tinju (boxing).
Kang Yoo (Dong Ho), yang tidak bisa bergaul dengan orang di rumah atau sekolah, mulai mempelajari dasar-dasar tinju dari buku. Suatu hari, dia keluar di jalan dan membela dirinya dengan keterampilan tinju yang dipelajarinya dari sekelompok preman. Sejak saat itu, ia disebut pemburu preman. Secara kebetulan, Kang Yoo bertemu Sang Ho (Sung Woong), yang menjadi mentornya. Kang Yoo mendorong dirinya untuk mencari tahu siapa dia sebenarnya ...
Download Link Subtile
[Download K-Drama] Holy Land (2012)
Subtitel indonesia Holy Land E01 : putra subtitleSubtitel indonesia Holy Land E02 : putra subtitle
Subtitel indonesia Holy Land E03 : putra subtitle
Subtitel indonesia Holy Land E04 : putra subtitle
Gaksital / Bridal Mask / 각시탈 subtitel
Info Drama Korea'' Bridal Mak "
- Title: 각시탈 / Gaksital / Bridal Mask
- Also known as: The Bride Mask, Doll Mask
- Genre: Action
- Episode: 28
- Director: Yoon Sung Sik
- Screenwriter: Yoo Hyun Mi
- Adaption from manhwa by: Huh Young Man
- Preceded by: The Equator Man
- Succeeded by: Nice Guy
Sinopsis
- Drama berlatar belakang tahun 1930 tentang seorang pahlawan bernama Lee Kang To yang ahli dalam bela diri. Dia bertarung melawan orang Jepang dalam masa kolonial Jepang.
Dia juga dikenal sebagai 'Gaksital' karena dia selalu menggunakan topeng tradisional untuk pengantin, untuk menyembunyikan wajahnya.
Cast
- Main Cast
- Joo Won as Lee Kang To
- Jin Se Yun as Mok Dan
- Park Ki Woong as Kimura Shunji
- Han Chae Ah as Chae Hong Joo
- Shin Hyun Joon as Lee Kang San
- Song Ok Sook as Kang-To’s mother
- Jun Noh Min as Dam Sa Ri
- Lee Kyung Shil as Oh Dong Nyun
- Ahn Hyung Joon as Gatsuyama Jun
- Yoon Bong Kil as Abe Shinji
- Kwon Tae Won as Choi Myung Sub
Kamis, 30 Agustus 2012
Albert Einstein Percaya Tuhan
Fisikawan terkenal yang diakui oleh seluruh dunia
Albert Einstein pada suatu ketika diwawancarai oleh seorang reporter, meminta
Eisntein untuk mengekspresikan pandangannya mengenai pemahaman agama serta keberadaan
Tuhan.
Kebetulan pada saat itu Einstein sedang mengantar
kepergian salah seorang tamunya, reporter melihat diatas meja tamu terletak
cangkir kopi, permen dan biskuit.
Einstein bertanya kepada reporter: “Tuan
reporter, apakah engkau tahu siapakah yang meletakkan cangkir kopi, permen dan
biskuit serta barang-barang lainnya diatas meja ini?.”
Reporter menjawab, “Tentu saja tuan sendiri.”
Einstein melanjutkan berkata, “Benda-benda kecil seperti cangkir kopi,permen
dan biskuit ini, memerlukan sebuah kekuatan untuk berada disini, maka
coba dipikirkan dialam semesta ini yang memiliki demikian banyak rasi bintang,
masing-masing rasi bintang tersebut memerlukan pengaturan kekuatan yang erat
untuk mengorbitnya, kekuatan dan pengaturan ini adalah Tuhan yang melakukannya.”
Lalu Einstein melanjutkan lagi dengan berkata,
“Mungkin tuan akan bertanya, Saya tidak pernah melihat dan juga tidak pernah
mendengar Tuhan berbicara, lalu bagaimana saya bisa percaya adanya Tuhan?.
“Benar kita memiliki 5 indra yaitu, penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa dan sentuhan, tetapi kelima indra ini mempunyai
kemampuan yang terbatas, seperti suara, mempunyai kisaran panjang gelombang
sebesar antara 20 Hz sampai 20.000 Hz supaya orang dapat mendengarnya. Hari ini
banyak orang didunia ini mengganggap saya adalah ilmuwan besar, sebenarnya saya
tidak pantas disebut sebagai ilmuwan besar,” kata Enstein.
“Yang benar-benar Ilmuwan sejati adalah Newton.
Saya hanya membenarkan kesalahan perhitungan yang dilakukan Newton. Walau
demikian, Newton sendiri pernah berkata, Saya seperti sebuah kerang didasar
laut yang kebetulan memancarkan cahaya, masih sangat jauh dari hukum keberadaan
laut…, Orang yang secerdas Newton masih mengatakan masih belum menemukan
kebenaran hukum laut, maka orang biasa seperti kita ini, untuk menemukan
kebenaran hukum alam semesta, adalah sebuah hal yang sangat sulit.”
“Oleh sebab itu jika kita sekarang tidak dapat
membuktikan keberadaan benda-benda tersebut, tetapi tidak dapat menyimpulkan
benda tersebut tidak ada. Sebagai contoh, dahulu ketika kita gagal membuktikan
keberadaan nuklir, jika pada saat itu kita mempunyai keberanian menyimpulkan
nuklir tersebut tidak ada, maka hari ini kita akan membuat kesalahan yang
paling besar, benarkah?.”
Haju Kencing (apa bhs indonesian e?)
Orang Ruteng sering menyebutnya haju kencing. Saya sendiri tidak tahu apa bahasa ilmiah untuk haju kencing ini. Dulu, waktu saya masih kecil, haju kencing banyak dijumpai di seputar kota Ruteng, terutama di ruas jalan dalam kota. Saat ini, haju kencing sudah sangat jarang ditemui. Foto yang saya ambil ini adalah foto haju kencing di depan Efata (Bruderan St. Aloysius Ruteng). Haju kencing
banyak menyerap air, sehingga bakal bunganya sering dijadikan mainan
oleh anak-anak. Di dalam bakal bunga tersebut banyak mengandung air, dan
kebetulan buahnya berujung lancip, sehingga kalau buahnya dipencet akan
menyemprotkan air (seperti orang lagi kencing hehehe, mungkin karena
itu orang menyebutnya haju kencing).
Upacara Roko Molas
A. Apa itu upacara Roko Molas Poco?
Dilihat dari segi kata, Roko berarti mengambil, Molas diidentikkan dengan wanita cantik dan Poco berarti gunung.
Upacara ini merupakan upacara pengambilan kayu di hutan yang digunakan sebagai tiang utama dalam pembuatan rumah adat (mbaru tembong).
Dalam upacara ini “Molas Poco” yang diambil untuk dijadikan tiang utama (Siri Bongkok) yang akan dibuat dan diletakkan di tengah-tengah rumah adat yang akan dibuat; dan rumah adat yang akan dibuat tersebut berbentuk kerucut dan bagian ujung atas rumah dipasang tanduk kerbau (rangga kaba).
B. Tahapan-tahapan dalam pelaksanaan upacara Roko Molas Poco
1. Tahap PerencanaanPada tahap ini tokoh-tokoh adat (tu’a golo, tu’a teno) mengundang anggota masyarakat, berkumpul di halaman kampung (natas) untuk mengadakan musyawarah dalam rangka pembuatan rumah adat (mbaru tembong).
2. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini, anggota masyarakat maupun tokoh-tokoh adat dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok Roko Molas Poco (kelompok yang akan pergi ke hutan untuk mengambil kayu tersebut) dan kelompok sundung/curu molas poco (kelompok yang akan menjemput Molas Poco tersebut). Upacara Roko Molas Poco ini diawali dengan acara teing hang atau pemberian sesajian di altar sesajian (compang) yang dipimpin oleh tu’a golo.
Setelah upacara “teing hang” selesai, barulah kelompok “Roko Molas Poco” berangkat ke hutan (puar) dengan membawa ayam (manuk), tuak, kapak (cola), parang (kope), serta alat-alat lain yang dibutuhkan saat upacara tersebut berlangsung.
Setiba di hutan, kelompok “Roko Molas Poco” beserta tu’a golo duduk menghadap pohon yang akan dijadikan sebagai “Molas Poco” atau “Siri Bongkok”. Kemudian tu’a golo, menyampaikan permohonan atau kepok atau torok tae kepada roh-roh, arwah-arwah nenek moyang.
Setelah torok tae tersebut selesai barulah kayu tersebut dipotong dan “Molas Poco” tersebut diusung ke kampung oleh kelomppok Roko. Sesampainya di dekat kampung (Pa’ang beo) kelompok Roko Molas Poco tersebut dijemput (sundung/curu) oleh kelompok penjemput, dengan diiringi tarian-tarian dan dilanjutkan torok/kepok sundung/curu.
C. Pihak-pihak yang terlibat
Pihak yang terlibat dalam upacara Roko Molas Poco yaitu tokoh-tokoh adat (tu’a golo, tu’a teno) serta seluruh anggota masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah tersebut.
Keterlibatan tu’a golo, tu’a teno dalam upacara ini sebagai orang yang memimpin upacara Roko Molas Poco dan juga sebagai orang yang menyampaikan torok/kepok saat upacara berlangsung.
Keterlibatan anggota masyarakat yaitu sebagai orang yang mengambil (Roko) serta menjemput (curu/sundung) “Molas Poco” atau “Siri Bongkok” bersama tu’a teno dan tu’a golo.
D. Apa saja yang dibutuhkan untuk upacara tersebut?
Yang dibutuhkan dalam upacara “Roko Molas Poco” ini diantaranya adalah ayam (manuk), moke (tuak), kapak (cola), serta parang (kope).
E. Dimana acara itu dilakukan?
Acara “Roko Molas Poco” ini dilakukan di halaman kampung (natas) dan pengambilan “Molas Poco” (Roko Molas Poco) dilakukan di hutan (puar).
F. Kapan acara itu dilakukan?
Acara “Roko Molas Poco” ini dibuat dalam rangka pembuatan rumah adat (mbaru tembong).
G. Mengapa acara itu dilakukan?
Acara “Roko Molas Poco” ini dibuat karena merupakan warisan leluhur. Dan tujuan upacara ini dibuat agar rumah adat atau mbaru tembong yang akan dibuat tetap kokoh, serta memberikan ketentraman bagi warga yang mendiami kampung tersebut.
GO’ET MANGGARAI
- Mori jari dedek, tanan wa awangn eta, pukul parn agu kolep, ulun le wain lau:
(Tuhan pencipta langit dan bumi serta segala isinya, Tuhan pencipta dan pembentuk kehidupan manusia dan segala makhluk serta segala alam raya)
- Neka nepo leso, neka ringing tis:
(Jangan lekang karena terik matahari, jangan demam karena hujan rintik)
- Uwa haeng wulang, langkas haeng ntala
(Tinggi sampai di bulan dan jangkau sampai di langit)
- Cimang neho rimang cama rimang rana, kimpur neho kiwung cama kiwung lopo
(Kekar kuat seperti batang lidi ijuk dari jenis pohon enau yang bertumbuh subur)
- Curup hae ubu, neho luju mu’u cepa hae reba cama neho emas lema:
(Bersahabatlah dengan baik dan berbicaralah dengan sopan)
- Neka conga bail jaga poka bokak, neka tengguk bail jaga kepu tengu :
(Jangan congkak atau sombong)
- Ngong ata lombong lala, kali weki run lombong muku:
(Orang lain dipersalahkan padahal diri sendiri bersalah)
- Nai ca anggit, tuka ca leleng:
(Seia sekata, satu konsepsi demi kesatuan aksi)
- Inggos-inggos wale io:
(Cepat-cepat jawal io (jawab sopan)
* Tentang Permusuhan
- Purak mukang wajo kampong:
(Orang yang menyerang kampung berhadapan muka)
- Ngampong tanah, ngawe wae:
(Dibatasi dengan jurang dan kali, permusuhan yang tidak boleh melanggar batas)
- Sesa mu’u eta kali ngampong kin tuka wa:
(Di mulut baik-baik, padahal dalam hati tetap bermusuhan)
- Tu’ung le mu’u toe le nai:
(Mulut berkata benar tetapi hati tidak)
(Kurang bijaksana)
- Tiwu lewe lewing lembak
(Kolam besar dan priuk bermulut lebar)
- Nai ngagil tuka ngengga
(Penuh kebijaksanaan)
- Kantis ati, racang rak cengka lemas:
(Hati dan paru-paru diasah)
- Na’a ngger wa rak, na’a ngger eta lemas:
(Supaya berani berjuang sampai memperoleh yang diharapkan)
- Ngo le golo bombong wela lokom:
(Hati-hati jangan sampai di atas bukit sudah berbunga seperti kayu lokom)
- Lalong pondong du ngon, lalong rombong du kolen:
(Pulang membawa keberhasilan)
- Asam ndusuk tana ru konem lalen tana sale:
(Walaupun negeri sendiri ditumbuhi ndusuk dan tanah orang berkelimpahan lale)
- Neka hemong kuni atu kalo/neka oke kuni atu kalo:
(Jangan lupa kampung halaman sendiri/jangan buang kebiasaan tanah tumpah darah)
- Neka pocu wa’u, neka jogot hae golo:
(Jangan membusukkan nama anggota klen/subklen dan sesama kampung)
- Neka mas agu hae ata, neka nggaut agu hae mbaru:
(Jangan bermusuhan dengan orang)
- Reges lima leke, tawa lima gantong:
(Tertawa lepas terbahak-bahak menunjukkan kegembiraan dalam kebersamaan)
- Serong dise empo mbate dise ame:
(Wasiat leluhur, warisan ayah)
- Tanah ledong dise empo:
(Tanah warisan leluhur)
- Tanah kuni atu kalo:
(Kampung halaman)
- Eme wakak betong asa, manga waken nipu tae:
(Kalau induk rumpun bambu tumbang, akarnya tumbuh melanjutkan kehidupan yang sama)
- Bom tombo le run rukus, bom tura le run kula:
(Kepiting tidak bicara sendiri, musangpun tak memberitahukan warna kulitnya)
- Wae de ase, agu wae de kae:
(Keturunan kakak dan keturunan adik)
- Api toe caing, wae toe haeng:
(Ungkapan anak wina kepada anak rona meminta anak menantu)
- Bom salang tuak, salang wae:
(Bukan jalan tuak yang cepat mati tetapi air yang mengalir terus)
- Pase sapu selek kope, weda rewa tuke mbaru:
(Memakai destar, masuk rumah melalui pintu datang meminang seorang gadis dengan resmi)
- Ita kala le pa’ang, tuluk pu’u batu mbaru:
(Melihat gadis dan terus datang meminangnya)
- Neka maring jarang laki, neka tinang jarang kina:
(Menyindir keluarga laki-laki agar melunasi belis)
- Hi nana lelo tana, hi enu lelo awang:
(Perbuatan melanggar susila)
- Anak pencang wa, ende lomes koleh:
(Istri yang bergaya muda, tua di rumah muda di jalan)
- Cawi neho wuas, dole neho ajos:
(Terpilin laksana rotan, terpintal bagai tali ajo)
- Ca natas bate labar, ca uma bate duat, ca mbaru bate kaeng, ca wae teku:
(Satu kampung halaman tempat bermain, satu kebun tempat kerja, satu rumah tempat tinggal)
- Ulun le wain lau, ngalorn awo waen sale:
(Dari hulu sungai sampai muara/lingkungan kampung yang lebih luas)
Drs. Antony Bagul Dagur, M.Si
Prospek dan Strategi Perkembangan Kabupaten Manggarai dalam Perspektif Masa Depan
Penerbit Indonesia Jakarta
Pengantar: Gubernur NTT, Piet Alexander Tallo, S.H.
Dirjen Otda Depdagri, Dr. Oentarto Sindung Mawardi, M.Si
2. Buku Budaya Daerah Manggarai
Petrus Janggur, B.A
Butir-butir Adat Manggarai
Penerbit Artha Gracia
Jl. Diponegoro No.14
(Tuhan pencipta langit dan bumi serta segala isinya, Tuhan pencipta dan pembentuk kehidupan manusia dan segala makhluk serta segala alam raya)
* Nilai Kesehatan
- Neka nepo leso, neka ringing tis:
(Jangan lekang karena terik matahari, jangan demam karena hujan rintik)
- Uwa haeng wulang, langkas haeng ntala
(Tinggi sampai di bulan dan jangkau sampai di langit)
- Cimang neho rimang cama rimang rana, kimpur neho kiwung cama kiwung lopo
(Kekar kuat seperti batang lidi ijuk dari jenis pohon enau yang bertumbuh subur)
* Tentang Persahabatan
- Curup hae ubu, neho luju mu’u cepa hae reba cama neho emas lema:
(Bersahabatlah dengan baik dan berbicaralah dengan sopan)
- Neka conga bail jaga poka bokak, neka tengguk bail jaga kepu tengu :
(Jangan congkak atau sombong)
- Ngong ata lombong lala, kali weki run lombong muku:
(Orang lain dipersalahkan padahal diri sendiri bersalah)
- Nai ca anggit, tuka ca leleng:
(Seia sekata, satu konsepsi demi kesatuan aksi)
- Inggos-inggos wale io:
(Cepat-cepat jawal io (jawab sopan)
* Tentang Permusuhan
- Purak mukang wajo kampong:
(Orang yang menyerang kampung berhadapan muka)
- Ngampong tanah, ngawe wae:
(Dibatasi dengan jurang dan kali, permusuhan yang tidak boleh melanggar batas)
- Sesa mu’u eta kali ngampong kin tuka wa:
(Di mulut baik-baik, padahal dalam hati tetap bermusuhan)
- Tu’ung le mu’u toe le nai:
(Mulut berkata benar tetapi hati tidak)
* Tentang Kebijaksanaan
- Ca pujut kali nuk, ca dako kali anor:(Kurang bijaksana)
- Tiwu lewe lewing lembak
(Kolam besar dan priuk bermulut lebar)
- Nai ngagil tuka ngengga
(Penuh kebijaksanaan)
* Tentang Memberi Motivasi
- Kantis ati, racang rak cengka lemas:
(Hati dan paru-paru diasah)
- Na’a ngger wa rak, na’a ngger eta lemas:
(Supaya berani berjuang sampai memperoleh yang diharapkan)
- Ngo le golo bombong wela lokom:
(Hati-hati jangan sampai di atas bukit sudah berbunga seperti kayu lokom)
- Lalong pondong du ngon, lalong rombong du kolen:
(Pulang membawa keberhasilan)
- Asam ndusuk tana ru konem lalen tana sale:
(Walaupun negeri sendiri ditumbuhi ndusuk dan tanah orang berkelimpahan lale)
- Neka hemong kuni atu kalo/neka oke kuni atu kalo:
(Jangan lupa kampung halaman sendiri/jangan buang kebiasaan tanah tumpah darah)
* Tentang Menjaga Nama Baik
- Neka pocu wa’u, neka jogot hae golo:
(Jangan membusukkan nama anggota klen/subklen dan sesama kampung)
- Neka mas agu hae ata, neka nggaut agu hae mbaru:
(Jangan bermusuhan dengan orang)
- Reges lima leke, tawa lima gantong:
(Tertawa lepas terbahak-bahak menunjukkan kegembiraan dalam kebersamaan)
* Go’et yang Berhubungan Dengan Leluhur
- Serong dise empo mbate dise ame:
(Wasiat leluhur, warisan ayah)
- Tanah ledong dise empo:
(Tanah warisan leluhur)
- Tanah kuni atu kalo:
(Kampung halaman)
* Go’et Pergantian Keturunan
- Eme wakak betong asa, manga waken nipu tae:
(Kalau induk rumpun bambu tumbang, akarnya tumbuh melanjutkan kehidupan yang sama)
- Bom tombo le run rukus, bom tura le run kula:
(Kepiting tidak bicara sendiri, musangpun tak memberitahukan warna kulitnya)
- Wae de ase, agu wae de kae:
(Keturunan kakak dan keturunan adik)
* Go’et Dalam Perkawinan
- Api toe caing, wae toe haeng:
(Ungkapan anak wina kepada anak rona meminta anak menantu)
- Bom salang tuak, salang wae:
(Bukan jalan tuak yang cepat mati tetapi air yang mengalir terus)
- Pase sapu selek kope, weda rewa tuke mbaru:
(Memakai destar, masuk rumah melalui pintu datang meminang seorang gadis dengan resmi)
- Ita kala le pa’ang, tuluk pu’u batu mbaru:
(Melihat gadis dan terus datang meminangnya)
- Neka maring jarang laki, neka tinang jarang kina:
(Menyindir keluarga laki-laki agar melunasi belis)
- Hi nana lelo tana, hi enu lelo awang:
(Perbuatan melanggar susila)
- Anak pencang wa, ende lomes koleh:
(Istri yang bergaya muda, tua di rumah muda di jalan)
- Cawi neho wuas, dole neho ajos:
(Terpilin laksana rotan, terpintal bagai tali ajo)
* Go’et Berkaitan Dengan Tempat Tinggal
- Ca natas bate labar, ca uma bate duat, ca mbaru bate kaeng, ca wae teku:
(Satu kampung halaman tempat bermain, satu kebun tempat kerja, satu rumah tempat tinggal)
- Ulun le wain lau, ngalorn awo waen sale:
(Dari hulu sungai sampai muara/lingkungan kampung yang lebih luas)
SUMBER :
1. Buku Budaya Daerah ManggaraiDrs. Antony Bagul Dagur, M.Si
Prospek dan Strategi Perkembangan Kabupaten Manggarai dalam Perspektif Masa Depan
Penerbit Indonesia Jakarta
Pengantar: Gubernur NTT, Piet Alexander Tallo, S.H.
Dirjen Otda Depdagri, Dr. Oentarto Sindung Mawardi, M.Si
2. Buku Budaya Daerah Manggarai
Petrus Janggur, B.A
Butir-butir Adat Manggarai
Penerbit Artha Gracia
Jl. Diponegoro No.14
TRADISI HANG HELANG MANGGARAI
Dalam masyarakat Manggarai, satu bentuk tradisi keberagamaan yaitu agama
lokal dan yang sering dilakukan adalah acara teing hang atau
helang/takung.
Acara teing hang dilaksanakan oleh masyarakat Manggarai yang beragama lokal untuk menghormati leluhur yang sudah meninggal yang dipercayai bahwa mereka mempunyai kekuatan supra empiris, dan helang/takung dibuat oleh masyarakat beragama lokal di Manggarai itu di bawah pohon besar (langke), batu besar dan mata air/temek untuk mempersembahkan kepada nenek moyang atau leluhur yang menjaga benda-benda tersebut dan diyakini mempunyai kekuatan supra empiris.
Acara teing hang atau helang/takung dilaksanakan setiap tahun baru, penti dan wuat wa’i, karena pada saat itu masyarakat Manggarai yang beragama lokal mengucapkan syukur dan memohon perlindungan nenek moyang dan leluhur melalui teing hang atau helang.
Secara sosiologis, acara teing hang atau helang/takung ini bermaksud untuk memberi makan kepada leluhur atau nenek moyang yang sudah meninggal yang diyakini memiliki kekuatan supra empiris.
Arwah leluhur yang sudah mati itu diyakini oleh masyarakat agama lokal di Manggarai memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Arwah leluhur dipandang sebagai jembatan do’a atau letang temba kepada Tuhan bagi yang ditinggalkan dan helang/takung dipandang sebagai suatu bentuk ucapan syukur roh yang tinggal atau menjaga batu besar itu dapat menjaga dan memberi berkat yang berlimpah kepada masyarakat agama lokal (di Manggarai). Atas dasar itu, acara teing hang / helang/takung dilakukan dengan maksud agar arwah leluhur itu tetap menjaga kehidupan yrang yang masih hidup dan agar nenek moyang itu tetap setiap menyampaikan doa dari orang yang masih hidup kepada leluhur yang mempunyai kekuatan supra empiris.
Nilai sosial dari acara teing hang atau takung adalah dilakukan oleh masyarakat Manggarai pada umumnya dan juga acara teing hang atau helang/takung ini dilihat sebagai suatu bentuk keyakinan masyarakat agama lokal di Manggarai kepada arwah nenek moyang atau leluhur sebagai perantara atau jembatan doa kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang memiliki kekuatan yang supra empiris. Selain itu, acara teing hang atau helang ini dilihat sebagai alat ukur yang menilai aspek religius masyarakat yang beragama lokal di Manggarai. Dan mereka percaya bahwa dengan melaksanakan acara teing hang atau helang mereka memperoleh keselamatan baik bagi dirinya maupun masyarat luas umumnya.
Acara teing hang dilaksanakan oleh masyarakat Manggarai yang beragama lokal untuk menghormati leluhur yang sudah meninggal yang dipercayai bahwa mereka mempunyai kekuatan supra empiris, dan helang/takung dibuat oleh masyarakat beragama lokal di Manggarai itu di bawah pohon besar (langke), batu besar dan mata air/temek untuk mempersembahkan kepada nenek moyang atau leluhur yang menjaga benda-benda tersebut dan diyakini mempunyai kekuatan supra empiris.
Acara teing hang atau helang/takung dilaksanakan setiap tahun baru, penti dan wuat wa’i, karena pada saat itu masyarakat Manggarai yang beragama lokal mengucapkan syukur dan memohon perlindungan nenek moyang dan leluhur melalui teing hang atau helang.
Secara sosiologis, acara teing hang atau helang/takung ini bermaksud untuk memberi makan kepada leluhur atau nenek moyang yang sudah meninggal yang diyakini memiliki kekuatan supra empiris.
Arwah leluhur yang sudah mati itu diyakini oleh masyarakat agama lokal di Manggarai memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Arwah leluhur dipandang sebagai jembatan do’a atau letang temba kepada Tuhan bagi yang ditinggalkan dan helang/takung dipandang sebagai suatu bentuk ucapan syukur roh yang tinggal atau menjaga batu besar itu dapat menjaga dan memberi berkat yang berlimpah kepada masyarakat agama lokal (di Manggarai). Atas dasar itu, acara teing hang / helang/takung dilakukan dengan maksud agar arwah leluhur itu tetap menjaga kehidupan yrang yang masih hidup dan agar nenek moyang itu tetap setiap menyampaikan doa dari orang yang masih hidup kepada leluhur yang mempunyai kekuatan supra empiris.
Nilai sosial dari acara teing hang atau takung adalah dilakukan oleh masyarakat Manggarai pada umumnya dan juga acara teing hang atau helang/takung ini dilihat sebagai suatu bentuk keyakinan masyarakat agama lokal di Manggarai kepada arwah nenek moyang atau leluhur sebagai perantara atau jembatan doa kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang memiliki kekuatan yang supra empiris. Selain itu, acara teing hang atau helang ini dilihat sebagai alat ukur yang menilai aspek religius masyarakat yang beragama lokal di Manggarai. Dan mereka percaya bahwa dengan melaksanakan acara teing hang atau helang mereka memperoleh keselamatan baik bagi dirinya maupun masyarat luas umumnya.
cerita rakyat" Lanur dan Timung Te'e " manggarai
Lanur mengerjakan ladang bersama-sama dengan warga kampung. Ladang
mereka terletak ditepi hutan, dan yang paling dekat dengan hutan adalah
ladang milik Lanur. Mereka mengerjakan ladang itu kurang lebih 2 bulan.
Bulan ketiga mereka menanami ladang tersebut dengan jagung dan padi.
Benih-benih itu ludes dimakan kera-kera yang tinggal di hutan sekitar
kawasan hutan. Lanur dan isterinya Timung Te’e menanam kembali
menggantikan yang telah dimakan kera. Tetapi setiap kali digantikan
selalu dimakan kera. Lanur dan isterinya mengeluh, persediaan benih
telah habis. Mereka hendak meminta benih kepada orang lain, tetapi niat
mereka diurungkan, karena mereka tahu akan habis dimakan kera.
Suatu hari Timung Té’é pergi ke hutan mencari sayur-sayuran hutan, sayur-sayuran cukup banyak, tetapi tumbuhnya sangat jarang diantara pohon-pohon besar. Kera-kera berayun pada cabang pohon-pohon besar itu. Sampailah Timung Té’é pada sebuah pohon yang dihuni kera paling besar, gemuk, tambun dan tengkuknya padat berisi. Kera seperti itu orang Manggarai menyebutnya Kodé Seket. Sayur-sayuran hutan di sekitar pohon itu sangat banyak. Kodé Seket memperhatikan Timung Té’é yang sedang memetik sayur, ia sangat mengagumi kecantikan wanita itu. Kodé Seket itu terbius oleh kecantikan Timung Té’é , sehingga timbul niatnya untuk menggoda dan berbuat jahat terhadap Timung Té’é . Tetapi ia belum berani melakukan hal itu karena segan akan keanggunan dan kewibawaan Timung Té’é. Kodé Seket itu terbuai dalam lamunan membayangkan kebahagiaan saat bersanding dengan Timung Té’é di pelaminan. Lamunan Kodé Seket itu menerawang ke alam mimpi yang indah dan romantis, sehingga tak disadarinya ia berteriak, “matak iné, hombés molasn” (aduhai, sungguh cantiknya). Timung Té’é tidak menghiraukan pujian Kodé Seket itu, ia mengira hanya main-main. Hari-hari selanjutnya terjadi hal yang sama, sehingga kesabaran Timung Té’é menjadi hilang. Benih jagung dan padi telah mereka habiskan, muncul ulah godaan terhadap dirinya, pujian bernada cinta.
Timung Té’é selalu penasaran karena ulah kode seket itu. Timung Té’é tak bisa sabar terus-menerus, karena itu ia melaporkan ulah Kodé Seket itu kepada suaminya. Lanur sangat marah mendengar penyampaian isterinya, tetapi Timung Té’é dapat menenangkannya. Timung Té’é berkata, “bapak tak usah marah, karena tidak akan menyelesaikan persoalan. Kita mencari akal untuk memusnahkan Kodé Seket itu dan kawan-kawannya. Kera-kera itu keterlaluan, benih padi dan jagung kita telah ludes, lalu Kodé Seket menggoda dan akan menikahi aku bila bapak telah meninggal. Kodé Seket itu mengira bahwa aku ini perempuan yang tidak tahu diri dan tidak tahu menghormati serta menghargai suamiku”. Lanur menerima saran isterinya, lalu mengusulkan untuk memasang jerat dan ranjau pada batas hutan dan ladang mereka. Timung Té’é berkeberatan terhadap usul Lanur lalu katanya, “bapak, cara itu kurang tepat karena keterbatasan waktu dan bahan-bahan yang diperlukan terlalu banyak. Aku mengusulkan kita mengulangi cara yang kita lakukan terhadap Kodé Lama. Kita baringkan sebatang kayu besar setinggi bapak, dibungkus kain kafan. Bapak dan tiga ekor anjing bersembunyi dalam wadah di loteng. Bapak dan tiga ekor anjing itu turun secepatnya dari loteng apabila lubang-lubang lantai, dinding telah ditutup serta pintu diiikat kuat-kuat. Seorang pemuda kampung kita undang semalam sebelumnya, kita ceritakan rencana kita dan diberi petunjuk bagaimana cara mengabarkan kematian bapak di hutan di kediaman kode seket itu”. Lanur berpikir sejenak, lalu katanya, “usulmu itu baik, cara itulah yang kita gunakan”.
Keesokkan paginya sebatang kayu dibungkus kain kafan seperti membungkus mayat. Petugas yang bertugas mengabarkan kematian Lanur berangkat ke hutan.
Orang itu masuk ke setiap kelompok tempat tinggal kera-kera itu dan mengabarkan tentang kematian Lanur. Demikian pula dilakukan di tempat tinggal si Kodé Seket. Mendengar kabar itu, Kodé Seket menyuruh beberapa kera untuk memanggil pemimpin-pemimpin kelompok untuk segera menghadap.
Kera-kera itu bergegas pergi memanggil para pemimpin kelompok itu. Beberapa saat kemudian pemimpin kelompok datang menghadap. Setelah semuanya hadir, Kodé Seket memberitahukan tentang kematian Lanur serta menyuruh mereka pergi melayat jenazah Lanur. Pemimmpin-pemimpin kelompok pulang ke tempat masing-masing, setiap pemimpin memanggil seluruh rakyat mereka. Kepada mereka diberitahukan tentang kematian Lanur dan perintah Kodé Seket untuk ikut melayati jenazah Lanur, tak ada yang berkeberatan. Kera-kera itu telah berkumpul pada tempat yang telah ditentukan. Kodé Seket dan rombongannya tiba, berhenti sejenak lalu mereka berangkat ke pondok Lanur.
Pemuda yang ditugaskan menyampaikan berita kematian telah kembali. Ia bersama Lanur dan tiga ekor anjing bersembunyi di loteng. Selang beberapa jam rombongan kera-kera itu datang. Kodé Seket berjalan paling depan, sebentar-sebentar tersenyum, karena ia merasa girang mendapatkan Timung Té’é sebagai isteri, apabila Lanur telah dikuburkan. Ia membayangkan dan menghayalkan ucapan ayu bahagia para undangan, sahabat, kenalan, dan kaum kerabat pada saat keduannya besanding di pelaminan. Senyum kebahagian Kodé Seket itu, dalam bahasa daerah Manggarai dikenal dengan istilah sumir samir atau sumi samir, menandakan suatu kepastian tetapi ia tak pernah menduga bahwa sebentar lagi maut akan merenggut nyawanya dan seluruh rakyatnya.
Demikian gembiranya Kodé Seket saat itu, sehingga tak sempat memikirkan hal-hal yang mengancam keselamatan, baik ia sendiri maupun seluruh rakyatnya. Timung Té’é meratapi jenazah suaminya sambil mengucapkan kata-kata yang menyayati para pelayat. Semakin rombongan kera-kera dekat ke pondok, tangis Timung Té’é semakin memilukan hati oarng yang mendengarnya. Rombongan tiba di depan pintu pondok, mereka melihat jenazah yang dibungkus kain kafan.
Kodé Seket masuk ke pondok dan diikuti para pemimpin kelompok dan kera-kera yang lain. Diantara kera-kera itu ada seekor kera betina yang sedang hamil. Kodé Seket duduk berdampingan dengan Timung Té’é, para pemimpin kelompok di sisi jenazah yang berlawanan, kera-kera lain diseluruh ruangan. Ratapan Timung Té’é sambil mengucapkan kata-kata, antara lain, “aduh, nasibku malang tak ada yang menyamai pribadi Lanur, segala kebutuhan keluarga selalu terpenuhi. Kepada siapa lagi tempat aku bergantung, tak ada lagi yang akan mencari kayu api, makan dan kebtuhan lain-lain”. Kodé Seket berkata menghibur Timung Té’é, “jangan kuatir, ada aku, segala kebutuhan akan kupenuhi”. Ia memerintahkan rakyatnya mengambil kayu api, makan dan sayur-sayuran. Beberapa saat kemudian mereka kembali membawa kayu api, jagung, pisang, dan sayur-sayuran.
Timung Té’é meratapi lagi jenazah itu, sehingga Kode Seket berkata, “apa lagi yang engkau perlukan Timung Té’é , padahal kayu api, makanan, dan sayur-sayuran telah ada. “Timung Té’é tidak menghiraukan pertanyaan Kodé Seket itu. Ia terus meratapi jenazah sambil mengucapkan kata-kata, “tidak ada orang yang menutup lubang dinding, lantai dan mengikat pintu. “Kodé Seket menyuruh kera-kera itu menutup lubang-lubang dinding, lantai dan mengikat pintu kuat-kuat. Kera betina yang hamil tidak menutup lubang lantai di dekat ia duduk, karena ia mempunyai firasat, bahwa Timung Té’é memperdaya mereka.
Maut menimpa Kodé Seket dan rakyatnya tak dapat dihindari. Timung Té’é menangis kuat-kuat sambil mengucapkan, “lubang dinding, lantai telah di tutup dan pintu telah diikat kuat-kuat. “Lanur, si pemuda dan tiga ekor anjing turun tiba-tiba dari loteng. Anjing menggigit kera-kera itu, Lanur dan pemuda itu memukul dengan kayu kudung. Sementara kera-kera itu hiruk-pikuk, kera betina hamil keluar lewat lubang di dekatnya, lalu lari ke hutan. Kodé Seket dan kera-kera lainnya mati tak seekorpun yang luput.
Lanur dan pemuda itu membuka kain pembungkus kayu, membenahi segala sesuatu yang diperlukan, dan mereka mulai menguliti kera-kera itu.
Keluarga Lanur berpesta, dan tidak ada hal-hal yang perlu dirisaukan, sebab makanan, sayur-sayuran dan kayu api telah tersedia. Daging kera-kera dibuat dendeng selain mereka yang butuhkan saat itu. Setiap hari keluarga Lanur makan bagaikan suasana pesta.
Suatu hari Timung Té’é pergi ke hutan mencari sayur-sayuran hutan, sayur-sayuran cukup banyak, tetapi tumbuhnya sangat jarang diantara pohon-pohon besar. Kera-kera berayun pada cabang pohon-pohon besar itu. Sampailah Timung Té’é pada sebuah pohon yang dihuni kera paling besar, gemuk, tambun dan tengkuknya padat berisi. Kera seperti itu orang Manggarai menyebutnya Kodé Seket. Sayur-sayuran hutan di sekitar pohon itu sangat banyak. Kodé Seket memperhatikan Timung Té’é yang sedang memetik sayur, ia sangat mengagumi kecantikan wanita itu. Kodé Seket itu terbius oleh kecantikan Timung Té’é , sehingga timbul niatnya untuk menggoda dan berbuat jahat terhadap Timung Té’é . Tetapi ia belum berani melakukan hal itu karena segan akan keanggunan dan kewibawaan Timung Té’é. Kodé Seket itu terbuai dalam lamunan membayangkan kebahagiaan saat bersanding dengan Timung Té’é di pelaminan. Lamunan Kodé Seket itu menerawang ke alam mimpi yang indah dan romantis, sehingga tak disadarinya ia berteriak, “matak iné, hombés molasn” (aduhai, sungguh cantiknya). Timung Té’é tidak menghiraukan pujian Kodé Seket itu, ia mengira hanya main-main. Hari-hari selanjutnya terjadi hal yang sama, sehingga kesabaran Timung Té’é menjadi hilang. Benih jagung dan padi telah mereka habiskan, muncul ulah godaan terhadap dirinya, pujian bernada cinta.
Timung Té’é selalu penasaran karena ulah kode seket itu. Timung Té’é tak bisa sabar terus-menerus, karena itu ia melaporkan ulah Kodé Seket itu kepada suaminya. Lanur sangat marah mendengar penyampaian isterinya, tetapi Timung Té’é dapat menenangkannya. Timung Té’é berkata, “bapak tak usah marah, karena tidak akan menyelesaikan persoalan. Kita mencari akal untuk memusnahkan Kodé Seket itu dan kawan-kawannya. Kera-kera itu keterlaluan, benih padi dan jagung kita telah ludes, lalu Kodé Seket menggoda dan akan menikahi aku bila bapak telah meninggal. Kodé Seket itu mengira bahwa aku ini perempuan yang tidak tahu diri dan tidak tahu menghormati serta menghargai suamiku”. Lanur menerima saran isterinya, lalu mengusulkan untuk memasang jerat dan ranjau pada batas hutan dan ladang mereka. Timung Té’é berkeberatan terhadap usul Lanur lalu katanya, “bapak, cara itu kurang tepat karena keterbatasan waktu dan bahan-bahan yang diperlukan terlalu banyak. Aku mengusulkan kita mengulangi cara yang kita lakukan terhadap Kodé Lama. Kita baringkan sebatang kayu besar setinggi bapak, dibungkus kain kafan. Bapak dan tiga ekor anjing bersembunyi dalam wadah di loteng. Bapak dan tiga ekor anjing itu turun secepatnya dari loteng apabila lubang-lubang lantai, dinding telah ditutup serta pintu diiikat kuat-kuat. Seorang pemuda kampung kita undang semalam sebelumnya, kita ceritakan rencana kita dan diberi petunjuk bagaimana cara mengabarkan kematian bapak di hutan di kediaman kode seket itu”. Lanur berpikir sejenak, lalu katanya, “usulmu itu baik, cara itulah yang kita gunakan”.
Keesokkan paginya sebatang kayu dibungkus kain kafan seperti membungkus mayat. Petugas yang bertugas mengabarkan kematian Lanur berangkat ke hutan.
Orang itu masuk ke setiap kelompok tempat tinggal kera-kera itu dan mengabarkan tentang kematian Lanur. Demikian pula dilakukan di tempat tinggal si Kodé Seket. Mendengar kabar itu, Kodé Seket menyuruh beberapa kera untuk memanggil pemimpin-pemimpin kelompok untuk segera menghadap.
Kera-kera itu bergegas pergi memanggil para pemimpin kelompok itu. Beberapa saat kemudian pemimpin kelompok datang menghadap. Setelah semuanya hadir, Kodé Seket memberitahukan tentang kematian Lanur serta menyuruh mereka pergi melayat jenazah Lanur. Pemimmpin-pemimpin kelompok pulang ke tempat masing-masing, setiap pemimpin memanggil seluruh rakyat mereka. Kepada mereka diberitahukan tentang kematian Lanur dan perintah Kodé Seket untuk ikut melayati jenazah Lanur, tak ada yang berkeberatan. Kera-kera itu telah berkumpul pada tempat yang telah ditentukan. Kodé Seket dan rombongannya tiba, berhenti sejenak lalu mereka berangkat ke pondok Lanur.
Pemuda yang ditugaskan menyampaikan berita kematian telah kembali. Ia bersama Lanur dan tiga ekor anjing bersembunyi di loteng. Selang beberapa jam rombongan kera-kera itu datang. Kodé Seket berjalan paling depan, sebentar-sebentar tersenyum, karena ia merasa girang mendapatkan Timung Té’é sebagai isteri, apabila Lanur telah dikuburkan. Ia membayangkan dan menghayalkan ucapan ayu bahagia para undangan, sahabat, kenalan, dan kaum kerabat pada saat keduannya besanding di pelaminan. Senyum kebahagian Kodé Seket itu, dalam bahasa daerah Manggarai dikenal dengan istilah sumir samir atau sumi samir, menandakan suatu kepastian tetapi ia tak pernah menduga bahwa sebentar lagi maut akan merenggut nyawanya dan seluruh rakyatnya.
Demikian gembiranya Kodé Seket saat itu, sehingga tak sempat memikirkan hal-hal yang mengancam keselamatan, baik ia sendiri maupun seluruh rakyatnya. Timung Té’é meratapi jenazah suaminya sambil mengucapkan kata-kata yang menyayati para pelayat. Semakin rombongan kera-kera dekat ke pondok, tangis Timung Té’é semakin memilukan hati oarng yang mendengarnya. Rombongan tiba di depan pintu pondok, mereka melihat jenazah yang dibungkus kain kafan.
Kodé Seket masuk ke pondok dan diikuti para pemimpin kelompok dan kera-kera yang lain. Diantara kera-kera itu ada seekor kera betina yang sedang hamil. Kodé Seket duduk berdampingan dengan Timung Té’é, para pemimpin kelompok di sisi jenazah yang berlawanan, kera-kera lain diseluruh ruangan. Ratapan Timung Té’é sambil mengucapkan kata-kata, antara lain, “aduh, nasibku malang tak ada yang menyamai pribadi Lanur, segala kebutuhan keluarga selalu terpenuhi. Kepada siapa lagi tempat aku bergantung, tak ada lagi yang akan mencari kayu api, makan dan kebtuhan lain-lain”. Kodé Seket berkata menghibur Timung Té’é, “jangan kuatir, ada aku, segala kebutuhan akan kupenuhi”. Ia memerintahkan rakyatnya mengambil kayu api, makan dan sayur-sayuran. Beberapa saat kemudian mereka kembali membawa kayu api, jagung, pisang, dan sayur-sayuran.
Timung Té’é meratapi lagi jenazah itu, sehingga Kode Seket berkata, “apa lagi yang engkau perlukan Timung Té’é , padahal kayu api, makanan, dan sayur-sayuran telah ada. “Timung Té’é tidak menghiraukan pertanyaan Kodé Seket itu. Ia terus meratapi jenazah sambil mengucapkan kata-kata, “tidak ada orang yang menutup lubang dinding, lantai dan mengikat pintu. “Kodé Seket menyuruh kera-kera itu menutup lubang-lubang dinding, lantai dan mengikat pintu kuat-kuat. Kera betina yang hamil tidak menutup lubang lantai di dekat ia duduk, karena ia mempunyai firasat, bahwa Timung Té’é memperdaya mereka.
Maut menimpa Kodé Seket dan rakyatnya tak dapat dihindari. Timung Té’é menangis kuat-kuat sambil mengucapkan, “lubang dinding, lantai telah di tutup dan pintu telah diikat kuat-kuat. “Lanur, si pemuda dan tiga ekor anjing turun tiba-tiba dari loteng. Anjing menggigit kera-kera itu, Lanur dan pemuda itu memukul dengan kayu kudung. Sementara kera-kera itu hiruk-pikuk, kera betina hamil keluar lewat lubang di dekatnya, lalu lari ke hutan. Kodé Seket dan kera-kera lainnya mati tak seekorpun yang luput.
Lanur dan pemuda itu membuka kain pembungkus kayu, membenahi segala sesuatu yang diperlukan, dan mereka mulai menguliti kera-kera itu.
Keluarga Lanur berpesta, dan tidak ada hal-hal yang perlu dirisaukan, sebab makanan, sayur-sayuran dan kayu api telah tersedia. Daging kera-kera dibuat dendeng selain mereka yang butuhkan saat itu. Setiap hari keluarga Lanur makan bagaikan suasana pesta.
Liang Bua
Liang Bua merupakan suatu tempat peninggalan sejarah pada masa
purbakala. Liang Bua terletak di perbukitan kapur bagian utara kota
Ruteng. Liang Bua memiliki keunikan yang membuat semua orang tertarik
yaitu tempat atau letaknya sangat strategis, indah dan sejuk.
Di samping itu, di sana juga terdapat banyak fosik-fosil dari hasil galian yaitu berupa tulang-tulang dan bentuk-bentuk lainnya. Dan hasil galian ini diketahui bahwa tempat ini telah dihuni oleh nenek moyang pada masa purbakala.
Dengan demikian, tempat ini harus kita jaga dan kita lestarikan keindahan alamnya, karena tempat ini merupakan suatu tempat bersejarah di Kabupaten Manggarai dan juga merupakan salah satu tempat pariwisata di Kabupaten Manggarai.
Pengertian Liang Bua
Liang Bua terdiri dari dua kata, yaitu Liang dan Bua. Liang berarti gua dan bua berarti dingin. Jadi Liang Bua merupakan suatu tempat peninggalan bersejarah pada masa purbakala, dimana atau tempatnya sangat dingin dan sejuk.
Letak Liang Bua
Liang Bua terletak di daerah perbukitan kapur di wilayah Kabupaten Manggarai, Flores. Meskipun sebagian besar wilayahnya berupa perbukitan kapur, akan tetapi daerah ini cukup subur, bahkan Manggarai sejak dulu dikenal sebagai salah satu lumbung padi untuk wilayah Flores.
Di samping memiliki potensi sumber daya alam yang menarik, Manggarai ternyata juga memiliki potensi sumber daya arkeologi yang mengagumkan. Hal tersebut dengan adanya arkeologi yang tersebar luas di daerah ini. Salah satu diantaranya adalah situs Liang Bua. Situs ini terletak di desa Liang Bua Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, sekitar 14 km dari utara kota Ruteng.
Penelitian di Liang Bua
Penelitian di Liang Bua pertama kali dilakukan oleh Theodorus Verhoeven, missionaris yang mengajar di Seminari Mataloko, Ngada tahun 1965. Ketika berkunjung di Liang Bua, gua tersebut masih digunakan untuk sekolah bagi anak-anak di sekitar Liang Bua. Hasil penelitian Verhoeven menggambarkan bahwa Liang Bua mengandung jejak kehidupan manusia yang berasosiasi dengan artefak batu dan tembikar.
Setelah Verhoeven, penelitian dilanjutkan oleh Prof. Dr. R.P. Soejono dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (sekarang Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional) tahun 1978 – 1989. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa situs Liang Bua telah dihuni sejak masa prasejarah, mulai dari masa paleolitik, mesolitik, neolitik, hingga masa paleometalik (logam awal). Berdasarkan hasil pertanggalan (dating) C14 dari kedalaman 3 meter diketahui bahwa Liang Bua telah dihuni oleh manusia modern sejak 10.000 tahun yang lalu.
Setelah mengalami kevakuman selama 12 tahun, maka atas prakarasa Prof. Dr. R.P. Soejono (Puslitbang-Arkenas) dan Prof. Mike Morwood (Universitas New England, Australia), diadakan kerjasama untuk melanjutkan penelitian di Liang Bua, antara 2001 – 2004. Selaku koordinator penelitian adalah Thomas Sutikna bersifat imerdisiplioner, melibatkan ahli dari berbagai disiplin ilmu, antara lain: arkeologi, geologi, geomorfologi, geokronologi, paleontologi, palinologi, dsb. Fokus penelitian diarahkan untuk memperoleh gambaran lengkap tentang kepurbakalaan situs Liang Bua. Penelitian gabungan ini melakukan penggalian hingga mencapai kedalaman 10,7 meter tanpa menemukan lapisan gua.
Penemuan Bersejarah
Di bawah lapisan tufa vulkanik yang berumur sekitar 11.000 tahun ditemukan lapisan budaya lagi yang mengandung artefak batu dan tulang-tulang binatang seperti stegodon (gajah purba), komodo, kura-kura, tikus, burung, dsb.
Di samping itu, ditemukan pula rangka manusia kerdil yang kemudian diberi nama Homo Florensiesis di kedalaman 6 meter yang berasal dari sekitar 18.000 tahun yang lalu. Manusia kerdil ini berjenis kelamina perempuan berumur sekitar 30 tahun, tinggi sekitar 106cm, volume otak sekitar 380cc (dibandingkan dengan otak manusia modern yang minimum memiliki volume otak 1200cc). Secara keseluruhan, lapisan yang mengandung temuan-temuan tersebut berumur antara 95.000 – 12.000 tahun yang lalu.
Di samping itu, di sana juga terdapat banyak fosik-fosil dari hasil galian yaitu berupa tulang-tulang dan bentuk-bentuk lainnya. Dan hasil galian ini diketahui bahwa tempat ini telah dihuni oleh nenek moyang pada masa purbakala.
Dengan demikian, tempat ini harus kita jaga dan kita lestarikan keindahan alamnya, karena tempat ini merupakan suatu tempat bersejarah di Kabupaten Manggarai dan juga merupakan salah satu tempat pariwisata di Kabupaten Manggarai.
Pengertian Liang Bua
Liang Bua terdiri dari dua kata, yaitu Liang dan Bua. Liang berarti gua dan bua berarti dingin. Jadi Liang Bua merupakan suatu tempat peninggalan bersejarah pada masa purbakala, dimana atau tempatnya sangat dingin dan sejuk.
Letak Liang Bua
Liang Bua terletak di daerah perbukitan kapur di wilayah Kabupaten Manggarai, Flores. Meskipun sebagian besar wilayahnya berupa perbukitan kapur, akan tetapi daerah ini cukup subur, bahkan Manggarai sejak dulu dikenal sebagai salah satu lumbung padi untuk wilayah Flores.
Di samping memiliki potensi sumber daya alam yang menarik, Manggarai ternyata juga memiliki potensi sumber daya arkeologi yang mengagumkan. Hal tersebut dengan adanya arkeologi yang tersebar luas di daerah ini. Salah satu diantaranya adalah situs Liang Bua. Situs ini terletak di desa Liang Bua Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, sekitar 14 km dari utara kota Ruteng.
Penelitian di Liang Bua
Penelitian di Liang Bua pertama kali dilakukan oleh Theodorus Verhoeven, missionaris yang mengajar di Seminari Mataloko, Ngada tahun 1965. Ketika berkunjung di Liang Bua, gua tersebut masih digunakan untuk sekolah bagi anak-anak di sekitar Liang Bua. Hasil penelitian Verhoeven menggambarkan bahwa Liang Bua mengandung jejak kehidupan manusia yang berasosiasi dengan artefak batu dan tembikar.
Setelah Verhoeven, penelitian dilanjutkan oleh Prof. Dr. R.P. Soejono dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (sekarang Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional) tahun 1978 – 1989. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa situs Liang Bua telah dihuni sejak masa prasejarah, mulai dari masa paleolitik, mesolitik, neolitik, hingga masa paleometalik (logam awal). Berdasarkan hasil pertanggalan (dating) C14 dari kedalaman 3 meter diketahui bahwa Liang Bua telah dihuni oleh manusia modern sejak 10.000 tahun yang lalu.
Setelah mengalami kevakuman selama 12 tahun, maka atas prakarasa Prof. Dr. R.P. Soejono (Puslitbang-Arkenas) dan Prof. Mike Morwood (Universitas New England, Australia), diadakan kerjasama untuk melanjutkan penelitian di Liang Bua, antara 2001 – 2004. Selaku koordinator penelitian adalah Thomas Sutikna bersifat imerdisiplioner, melibatkan ahli dari berbagai disiplin ilmu, antara lain: arkeologi, geologi, geomorfologi, geokronologi, paleontologi, palinologi, dsb. Fokus penelitian diarahkan untuk memperoleh gambaran lengkap tentang kepurbakalaan situs Liang Bua. Penelitian gabungan ini melakukan penggalian hingga mencapai kedalaman 10,7 meter tanpa menemukan lapisan gua.
Penemuan Bersejarah
Di bawah lapisan tufa vulkanik yang berumur sekitar 11.000 tahun ditemukan lapisan budaya lagi yang mengandung artefak batu dan tulang-tulang binatang seperti stegodon (gajah purba), komodo, kura-kura, tikus, burung, dsb.
Di samping itu, ditemukan pula rangka manusia kerdil yang kemudian diberi nama Homo Florensiesis di kedalaman 6 meter yang berasal dari sekitar 18.000 tahun yang lalu. Manusia kerdil ini berjenis kelamina perempuan berumur sekitar 30 tahun, tinggi sekitar 106cm, volume otak sekitar 380cc (dibandingkan dengan otak manusia modern yang minimum memiliki volume otak 1200cc). Secara keseluruhan, lapisan yang mengandung temuan-temuan tersebut berumur antara 95.000 – 12.000 tahun yang lalu.
TOING DIA bahasa manggarai
“TOING DIA”
Neka po’ong jogot
Neka tuke cempeng agu hae ata
Raes agu hae ka’eng
Bantang cama reje lele
Nai ca anggit,
Tuka ca leleng
Neka bara bana, neka tuka dio
Neka somor ngger olo
Sumir ngger musi
Neka behas neho kena,
Kaos neho kota
Paka di’a gauk, di’a tombo,
Di’a ba weki, agu hae ata
“NASIHAT BAIK”
Jangan menimbulkan kemarahan
Terhadap orang lain
Damailah dengan semua orang
Musyawarah bersama dan
Bersatu hati
Jangan ada perselisihan
Jangan menjadi provokator
Jangan mudah rusak seperti pagar
Bercerai seperti batu susun
Tunjukkan sikap yang baik,
Tata cara berbicara serta
Bawa diri yang baik
Neka po’ong jogot
Neka tuke cempeng agu hae ata
Raes agu hae ka’eng
Bantang cama reje lele
Nai ca anggit,
Tuka ca leleng
Neka bara bana, neka tuka dio
Neka somor ngger olo
Sumir ngger musi
Neka behas neho kena,
Kaos neho kota
Paka di’a gauk, di’a tombo,
Di’a ba weki, agu hae ata
“NASIHAT BAIK”
Jangan menimbulkan kemarahan
Terhadap orang lain
Damailah dengan semua orang
Musyawarah bersama dan
Bersatu hati
Jangan ada perselisihan
Jangan menjadi provokator
Jangan mudah rusak seperti pagar
Bercerai seperti batu susun
Tunjukkan sikap yang baik,
Tata cara berbicara serta
Bawa diri yang baik
GO’ET manggarai
Eme cela tau du leso senin
Tawa koe kole du leso selasa
Eme jagur tau du leso rabu
Ngalis koe nai du leso kamis
Eme cuar tau du leso jumat
Raup koe kole du leso sabtu
Kudut ngalis koe nai du ngaji leso minggu
Ai kudut ngo one tanah data anak dami,
Ai hia wa’at agu wetung, kudut ngalis nai,cengka gerak
Du ngon hia lobo jarang ngorong
Du kolen ga agu lalong rombeng
Neka manga do’ong le ronggo
Rengga cengkang
Neka lako tengguk rantang kepu tengu
Neka lako conga rantang poka bokak
Riko-riko nuk koe ata musi mai beo
Cala te’e neho muku tara lando neho teu
akan masak seperti pisang, akan berbunga seperti tebu)
Ema agu anak neka woleng bantang, ase agu ka’e neka woleng tae
Bapak dan anak jangan beda pendapat, sanak saudara, kakak dan adik tidak boleh berbeda pendapat).
Ca natas bate labar, ca uma bate duat, ca wae bate cebong agu ca mbaru bate kaeng
Satu halaman tempat bermain/bercana ria, satu kebun tempat bekerja/bertani dan satu rumah tinggal bersama)
Ipung ca tiwu neka woleng wintuk
Nenar dalam satu kolam supaya tidak tinggal terpisah)
Muku ca pu’u neka woleng curup
pisang satu pohon jangan beda pendapat)
Deun lako do bae (banyak berjalan/merantau banyak pula ilmunya)
Don ita don kole bae (banyak yang ia lihat banyak pula pengalamannya)
Nai ca anggi, tuka ca leleng (seia sekata/satu konsepsi dari kesetaraan aksi)
Tawa koe kole du leso selasa
Eme jagur tau du leso rabu
Ngalis koe nai du leso kamis
Eme cuar tau du leso jumat
Raup koe kole du leso sabtu
Kudut ngalis koe nai du ngaji leso minggu
Ai kudut ngo one tanah data anak dami,
Ai hia wa’at agu wetung, kudut ngalis nai,cengka gerak
Du ngon hia lobo jarang ngorong
Du kolen ga agu lalong rombeng
Neka manga do’ong le ronggo
Rengga cengkang
Neka lako tengguk rantang kepu tengu
Neka lako conga rantang poka bokak
Riko-riko nuk koe ata musi mai beo
Cala te’e neho muku tara lando neho teu
akan masak seperti pisang, akan berbunga seperti tebu)
Ema agu anak neka woleng bantang, ase agu ka’e neka woleng tae
Bapak dan anak jangan beda pendapat, sanak saudara, kakak dan adik tidak boleh berbeda pendapat).
Ca natas bate labar, ca uma bate duat, ca wae bate cebong agu ca mbaru bate kaeng
Satu halaman tempat bermain/bercana ria, satu kebun tempat bekerja/bertani dan satu rumah tinggal bersama)
Ipung ca tiwu neka woleng wintuk
Nenar dalam satu kolam supaya tidak tinggal terpisah)
Muku ca pu’u neka woleng curup
pisang satu pohon jangan beda pendapat)
Deun lako do bae (banyak berjalan/merantau banyak pula ilmunya)
Don ita don kole bae (banyak yang ia lihat banyak pula pengalamannya)
Nai ca anggi, tuka ca leleng (seia sekata/satu konsepsi dari kesetaraan aksi)
besarnya kasih sayang seorang ibu
ini adalah kisah nyata dimana seorang ibu membuktikan besarnya kasih sayangnya demi menyelamatkan insan yang dipanggilnya anak.
semoga kita selalu mengenang besarnya jasa seorang ibu yang telah melahirkan kita...
Jumat, 27 Januari 2012
Sebut saja namanya doni. Doni adalah seorang yang sangat pemalu dan juga seorang pria yang berwajah cakep alias ganteng. Banyak cewek yang ingin memilikinya. Tapi tak satupun yang berhasil menaklukan hati dari doni. Hingga suatu ketika seorang cewek yang baru pindah dari sebuah ke kota ke sekolah doni sedikit menjadi bahan pembicaraan di sekolahnya. Karena sang cewek yang bernama alisa ini sangat cantik, begitu kata teman-teman doni. Tapi doni tetap menjadi seorang lelaki yang kalem dan pendiam. Angin bertiup kencang ketika air hujan turun membasahi siang itu. Terlihat doni sedang duduk termenung di unjung pandangan. Alisa berjalan di depannya, dan doni perlahan menatap wajah alisa yang sangat cantk itu. Sebuah senyuman keluar dari paras cantik alisa. Namun tiba-tiba, bagaikan bersayap, sapu tangan yang dipegang oleh alisa terjatuh tepat di depan doni. Doni pun langsung mengambil sapu tangan itu.
Tak sengaja doni memegang tangan alisa yang juga ingin mengambil sapu tangannya. "Maaf", kata doni yang terlihat malu kepada alisa. Alisa hanya menjawab dengan sebuah senyuman cantik di wajahnya. Alisa pun langsung berjalan meninggalkan doni.
Saya tau apa yang dipikirkan oleh doni, sebuah kekaguman terhadap seorang cewek yang telah menaklukkan hatinya.
Hari berganti hari bulan pun terus berlalu, hampir 4 bulan doni terus menyimpan rasa kepada alisa, tapi tak mampu tuk diutarakannya. Hingga suatu ketika, saat itu adalah hari pergelaran kesenian di sekolah mereka. Doni memberanikan diri untuk mengajak alisa untuk menonton acara tersebut. "Duh aku ga bisa don, aku udah ada janji dengan orang lain", jawab alisa kepada doni. Dengan wajah yang gundah doni berjalan, tak ada senyum di wajahnya.
Malam pun datang, doni datang ke acara kesenian di sekolahnya bersama teman-temannya. "Eh doni itu kan alisa!!!", kata teman doni kepadanya. Doni lalu berlari ke arah alisa, "katanya kamu ga bisa datang?", tanya doni kepada alisa. "Aku kan bilang aku udah janji ama orang lain, bukan aku ga bisa datang", jawab alisa. "Emang kamu ke sini ama siapa?", tanya doni lagi. "Tuh", tunjuk alisa. Doni melihat seorang lelaki yang sedang bernyanyi di atas pentas. Dengan sedikit sedih doni menjawab, "ou ya udah met fun aja ya", kata doni. Lagi-lagi doni berjalan dengan kesedihan di hatinya, mungkinkah ini balasan dari dirinya yang selalu menolak banyak wanita?.
Malam itu suasana terlihat sangat meriah dan ramai, wajah gembira terpancar dari para murid yang hadir saat itu. Tapi tidak dengan doni yang hanya murung, ntah apa yang dipikirinnya. "Udah la don, ngapain lo kaya gini?!, masih banyakkan cewek lain?", kata seorang teman doni yang ingin menghibur perasaannya. Tapi doni hanya terdiam.
"Yuk kita sambut alisa!!!!", kata pembawa acara saat itu. "Don alisa nyanyi, wah hebat yah udah cantik, pinter nyanyi lagi", kata seorang teman doni. Doni langsung menatap ke arah alisa yang perlahan berjalan ke atas pentas. "Lagu ini saya tujukan kepada seorang yang selama ini saya kagumi. Penonton lalu bersorak mendengar kata dari alisa itu, "siapa tu!!!?!!!?". Alisa kemudian langsung bernyanyi, sesaat alisa sedang menikmati nyanyiannya, tiba-tiba seorang lelaki datang menghampirinya dengan bunga di tangannya. Alisa menerima bunga itu dengan senyum di bibir mungilnya.
"Emang aku ga pantes buat alisa", kata doni dalam hati. Doni pun berjalan perlahan dengan gundah di hatinya. "Don lo mau kemana!!!", teriak teman doni. Tapi doni seakan tak mendengar perkataan dari temannya itu dan terus berjalan. "Doni!!!", terdengar suara seoarang cewek yang memanggil dirinya. Doni lalu menatap arah suara tersebut. Doni melihat sosok alisa sedang menunggunya dari kejauhan. "Ada apa alisa?", tanya doni?. "Kamu tahu tadi aku nyanyi buat siapa?", tanya alisa. "Buat aku?", tanya doni dengan perasaan yang super PD!!. Alisa tersenyum dan berkata, "bukan doni, lagu tadi buat teman kamu", Jawab alisa. Wajah doni yang awalnya terlihat bahagia berubah gundah dan marah, tapi tak bisa diungkapkannya. Doni langsung berjalan meninggalkan alisa, sambil berkata "ou gitu...ntar aku sampaiin".
Namun sesaat doni berpaling dari alisa, alisa memanggilnya lagi, "doni!!!". Tapi doni tetap seakan tidak peduli.
Hari berganti dan terus berganti, terdengar kabar di sekolah doni bahwa alisa sang bidadari sekolah akan pindah sekolah lagi. Malam itu doni sedang berkumpul dengan teman-temannya, "don alisa bakal pindah sekolah 3 hari lagi, besok malam kan ada acara amal sekolah, nah gua yakin alisa nyanyi lagi, lo ungkapin donk perasaan lo!!!, jangan diem kaya gini!!!". "Ah dia udah punya pacar sob!!!", jawab doni.
Esok pun tiba, ketika malam menjelang, ternyata benar alisa nyanyi pada malam itu. "Yuk kita sambut alisa". Terdengar suara cantik alisa secantik wajahnya. Malam itu alisa menyanyikan sebuah lagu, pelukalah diriku dan jangan kau lepaskan ku (pasti pada tahu ya). Setelah alisa berhenti bernyanyi, pembawa acara bertanya kepadanya, "lagu tadi buat siapa tuh lisa?", "Lagu tadi buat seorang yang sangat special buat aku", jawab alisa. Mendengar perkataan alisa itu doni seakan ingin menangis, memang doni bukan seorang yang cengeng tapi, semua pasti melakukan hal yang sama jika seorang yang sangat dicintainya telah ada yang memiliki. Doni lalu berjalan ke arah alisa, dan naik ke atas pentas. "Boleh gua nyanyi?", tanya doni kepada pembawa acara. Pembawa acara yang juga teman doni langsung mengizinkan doni untuk bernyanyi. Doni langsung mengambil gitar dan bernyanyi, "Dewi berikan nafasmu untukku" (pasti tahu lagu alexa). "Wah...doni!!!", begitu teriakan pembawa acara setelah doni selesai bernyanyi. "Lagunya buat siapa doni?", tanya pembawa acara. "Lagu ini buat seorang yang telah memiliki tapi aku masih sayang ama dia". Penonton dan teman-teman doni langsng berteriak mendengar perkataan doni. "Apa lagu tadi buat aku?", tanya alisa. Doni hanya terdiam. Alisa pun berkata lagi, "kamu tahu doni, setiap aku nyanyi lagu itu aku tujukan buat siapa?", kata alisa. "Bukan buat aku kan?, yah pasti buat orang yang kamu sayangi aja", jawab doni. "Emang bukan buat seorang yang namanya doni, tapi seorang cowok yang namanya dodon", lanjut alisa. Wajah doni langsung memerah mendengar alisa, karena dodon itu adalah panggilan doni di keluarganya dan di teman-teman dekatnya. Doni langsung berjalan ke arah alisa dan...PEnonton mulai bersorak-sorai melihat doni dan alisa. "Berarti...", kata doni. Alisa langsung menutup bibir doni dengan jari telunjuknya. "Ya orang yang aku sayang itu kamu doni...", kata alisa. Doni langsung memeluk alisa seakan hanya mereka berdua yang hadir malam itu. Malam itu adalah malam yang sangat berarti bagi doni dan juga alisa. Sungguh bahagia bukan...The end.
Rabu, 25 Januari 2012
Ketika kita mempunyai keinginan yang kuat untuk bertemu terhadap sesuatu atau kejadian, disitulah rasa rindu muncul, sebuah sensasi perasaan positif yang dimiliki oleh setiap manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya didunia; malaikat, jin, hewan apalagi tumbuhan.
Dapat dikatakan juga bahwa rindu merupakan bagian dari perasaan cinta
Dapat dikatakan juga bahwa rindu merupakan bagian dari perasaan cinta
limited edition"yoyo lewogete"hoooooaaaa
SELAMAT DATANG DIBLOGku......blog jadul.
Selasa, 24 Januari 2012
CINTA SEJATI
Pagi itu, klinik sangat sibuk, sekitar pkl.09.30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu jarinya. Saya menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru bisa ditangani setidaknya 1 jam lagi.
Sewaktu menunggu pria tua itu nampak geliasah, sebentar-sebentar dia melirik ke jam tangannya, sya merasa kasihan, jadi ketika sedang luang saya sempatkan untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya lukanya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter saya putuskan untuk melakukannya sendiri.Sambil menangani lukanya saya.
apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat disana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer’s, lalu saya bertanya apakah istrinya akan marah kalau dia terlambat, dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak dapat mengenalinya lagi sejak 5 tahun terakhir.
Saya sangat terkejut dan berkata “Bapak masih pergi kesana tiap hari walaupun istri Bapak sudah tidak kenal Bapak lagi?” Dia tersenyum sambil menepuk tangan saya ” Tetapi saya masih menganali dia kan?”
Sungguh,, saya sangat terharu mendengar ceritanya, saya menahan air mata sampai kakek itu pergi…. CINTA KASIH seperti itulah yang saya mau dalam hidupku, diperjuangkan, memperjuangkan, penuh pengorbanan….
Dikisahkan dari seorang sahabat untuk membuka pintu hati kita…
Sewaktu menunggu pria tua itu nampak geliasah, sebentar-sebentar dia melirik ke jam tangannya, sya merasa kasihan, jadi ketika sedang luang saya sempatkan untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya lukanya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter saya putuskan untuk melakukannya sendiri.Sambil menangani lukanya saya.
apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat disana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer’s, lalu saya bertanya apakah istrinya akan marah kalau dia terlambat, dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak dapat mengenalinya lagi sejak 5 tahun terakhir.
Saya sangat terkejut dan berkata “Bapak masih pergi kesana tiap hari walaupun istri Bapak sudah tidak kenal Bapak lagi?” Dia tersenyum sambil menepuk tangan saya ” Tetapi saya masih menganali dia kan?”
Sungguh,, saya sangat terharu mendengar ceritanya, saya menahan air mata sampai kakek itu pergi…. CINTA KASIH seperti itulah yang saya mau dalam hidupku, diperjuangkan, memperjuangkan, penuh pengorbanan….
Dikisahkan dari seorang sahabat untuk membuka pintu hati kita…
Cinta Sepotong Mimpi
Penulis : Hara Hope*
Dapatkah seseorang mencinta hanya karena sepotong mimpi? Mustahil. Namun, adikku semata wayang mengalaminya – setidaknya itu yang diakuinya.
Gadis yang dicintainya adalah Lala, adik sepupunya sendiri. Wajar, bukan? Bahkan, menjadi halal saat kedua orang tuaku kemudian berpikir untuk meminangnya.
Semua berawal dari penuturan Jamal. Ia bilang, ia memimpikan Lala sebagai gadis yang diperkenalkan Ibu kepadanya sebagai calon istrinya.
“Kami sudah saling mengenal, Bu,” kata Jamal dalam mimpi itu dengan malu-malu. Gadis itu pun mengangguk dengan senyum malu-malu pula.
Sebenarnya Jamal tidak terlalu meyakini gadis itu adalah Lala. Wajahnya samar terlihat. Namun, Jamal merasakan aura gadis itu cukuplah ia kenal. Hebatnya, ini diperkuat oleh ayah kami. Di malam yang sama, beliau bermimpi tentang Jamal yang duduk di kursi pelaminan bersama Lala! Apakah ini pertanda? Entah. Hanya saja, sejak itu aku merasakan pandangan Jamal terhadap Lala berubah.
Mereka sebenarnya teman bermain di waktu kecil, namun tak pernah bertemu lagi sejak remaja. Keluarga Lala tinggal jauh di Surabaya, sementara kami di Jakarta. Kami jarang berkumpul, bahkan saat lebaran, sehingga kenangan yang dimiliki Jamal tentang Lala adalah kenangan di masa kecil dulu sebagai abang yang kasih kepada adiknya. Kasih dimana sama sekali tak terpikirkan untuk memandang Lala sebagai gadis yang pantas dicintai, bahkan halal dinikahi. Namun, mimpi itu mampu menyulap semuanya menjadi…cinta (?).
Mari katakan aku terlalu cepat menyimpulkan sebagai cinta. Barangkali saja itu hanya pelangi yang tak kunjung sirna mengusik relung hati adikku. Pelangi yang mampu merubahnya menjadi sok melankolis hingga membuat kami sekeluarga khawatir melihat ia kerap termenung menatap kejauhan, untuk kemudian mendesah perlahan.
“Mungkin kau harus menemuinya di Surabaya,” kata Ibu.
”Rasanya tak usah, Bu. Masak hanya karena bunga tidur aku menemuinya,” jawab Jamal.
”Barangkali saja itu pertanda.”
”Bahwa Lala jodoh saya?”
”Bukan. Bahwa sudah lama kau tak mengunjungi mereka untuk bersilaturahmi. Biar nanti Mbakmu dan suaminya yang menemanimu kesana.”
Jamal tertegun sejenak untuk kemudian mengangguk.
Wah, pintar sekali Ibu membujuk. Padahal tanpa sepengetahuan adikku yang pendiam itu, Ibu menyerahi kami tugas untuk ”meminang” Lala. Ibu betul-betul yakin mimpi itu sebagai pertanda sehingga memintaku menanyakan kepada Lala tentang kemungkinan kesediaannya dipersunting Jamal.
”Kenapa tidak minta langsung saja pada Paklik? Biar mereka dijodohkan saja,” kataku waktu itu.
”Ah, adikmu itu takkan mau.”
”Tapi…”
”Sudahlah. Ibu tahu Jamal belum terlalu dewasa. Kuliah saja belum selesai. Tapi setidaknya ia memiliki penghasilan dari usaha sambilannya berdagang, ‘kan?”
“Bukan itu maksudku. Apa Ibu yakin Jamal mau dengan Lala? Barangkali saja mimpinya hanya romantisme sesaat.”
Ibu tercenung. Aku yakin Ibu belum memastikan ini. Yang beliau tahu hanya Jamal yang bertingkah aneh. Itu saja. Selebihnya ia perkirakan sendiri. Sepertinya justru Ibulah yang ngebet ingin meminang Lala.
”Kupercayakan semua itu padamu.”
Walah! Berarti tugasku berlipat-lipat! Selain memastikan kesediaan Lala, aku pun harus memastikan perasaan adikku sendiri.
***
Ia diam. Sudah kuduga reaksinya begitu jika kutanyakan tentang kemungkinan perjodohannya dengan Lala.
“Kamu mencintainya?” Aku mengganti pertanyaan. Kali ini Jamal malah terkekeh.
”Mungkin… Entahlah. Rasanya tak wajar.”
Tentu saja tak wajar! Bagiku, mencinta karena sepotong mimpi hanya omong kosong. Lagi pula Jamal tak tahu seperti apa wajah dan kepribadian Lala dewasa ini. Aku pun tak tahu.
“Santai saja, Mal. Tak usah dipikirkan. Yang penting kita tiba dulu di sana,” kata Bang Rohim, suamiku.
***
Setiba di Surabaya, kami disambut keluarga Lala hangat.
”Wah, iki Jamal tho? Oala, wis gedhe yo?!” ucap Bulik.
Jamal hanya tersenyum. Apalagi saat pipi gendutnya dijawil Bulik seperti saat ia kanak-kanak dulu.
”Mana Lala, Bulik?” tanyaku saat tak mendapati anak semata wayangnya itu.
”Ada di dapur. Sedang bikin wedhang.”
Aku segera ke dapur. Aku sungguh penasaran seperti apa Lala sekarang. Kulihat seorang gadis di sana. Subhanalah, cantiknya! Ia mencium tanganku. Hmm, santun pula. Cukup pantas untuk Jamal. Tapi, aku harus menahan diri. Kata Bang Rohim, butuh pendekatan persuasif untuk menjalankan misi ini. Aku tak yakin aku bisa sehingga menyerahkan sepenuhnya skenario kepadanya.
Tak banyak yang dilakukan Bang Rohim selain meminta Lala menjadi guide setiap kami bertiga pergi ke pusat kota. Ia melarangku membicarakan soal perjodohan, pernikahan, pinangan atau apapun istilahnya kepada Lala. Katanya, kendati kami keluarga dekat, sudah lama kami tidak saling bersua. Bisa saja Lala memandang kami sebagai ”orang asing”. Upaya melancong bersama ini demi untuk mengakrabkan kembali Jamal, Lala dan aku. Kiranya ini dapat memudahkanku saat mengutarakan maksud kedatangan kami sesungguhnya nanti.
Malam ini saat dimana aku diperbolehkan suamiku mengungkapkan semuanya kepada Lala. Seharusnya memang begitu. Tapi Jamal mendahuluiku. Tak kusangka ia serius dengan perasaannya. Ia utarakan semuanya. Tentang mimpinya, tentang jatuh cinta, bahkan tentang pinangan.
“Mungkin Dik Lala menganggap ini konyol. Abang juga merasa begitu. Tapi, setidaknya sekarang Abang yakin dengan perasaan Abang. Jadi, mau tidak kalau Lala Abang lamar?”
Bukan manusia kalau Lala tidak kaget ditembak seperti itu. Ia tampak galau. Seperti aku dulu. Sayang Lala tak merespon seperti aku merespon pinangan Bang Rohim dulu.
“Maaf, Mas. Aku terlanjur menganggapmu sebagai kakak. Rasanya sulit untuk merubahnya.”
Berakhirlah. Sampai di sini saja perjuangan kami di Surabaya. Jamal tersenyum mengerti, namun kuyakini hatinya kecewa. Cintanya yang magis tak berakhir manis. Kami pulang ke Jakarta dengan penolakan.
Sejak hari itu, Jamal tak terlihat lagi melankolis. Ia kembali sibuk dalam aktivitasnya. Adikku itu benar-benar hebat. Kendati patah hati, ia tak mau larut dalam perasaannya. Bahkan, belakangan aku tahu ia belum menyerah. Setidaknya penolakan itu berhasil mengakrabkan kembali Jamal dengan Lala. Mereka berdua kerap berkirim SMS sekedar menanyakan kabar ataupun saling bercerita. Jamal betul-betul memandang ini sebagai peluang untuk mengubah pandangan Lala terhadapnya.
Waktu kian berganti hingga masa dimana Jamal mengutarakan lagi keinginannya itu. Sayang ditolak lagi. Begitu berulang hingga tiga kali.
Ayah dan Ibu prihatin melihatnya. Mereka tak bisa berbuat banyak. Keinginan mereka untuk menjodohkan saja keduanya Jamal tolak.
”Syarat orang yang menjadi calon istriku, haruslah tulus ikhlas menjadi pendampingku. Atas kemauannya sendiri, bukan pihak lain!” Begitu alasannya selalu.
Terserahlah apa katanya. Tapi ini sudah menginjak tahun kelima Jamal memelihara cinta tak kesampaian ini. Usianya kian mendekati kepala tiga. Cukup mengherankan ia tetap memeliharanya terus. Rasanya tak layak cinta itu dipelihara terus. Ia harus diberangus. Lala bukanlah gadis terakhir yang hidup di dunia. Untuk itu Ibu, Ayah dan aku kongkalikong untuk membunuh cinta Jamal. Sudah saatnya ia mempertimbangkan gadis-gadis lain. Kebetulan ada yang mau. Pak Haji Abdullah sejak lama ingin bermenantukan Jamal dan menyandingkannya dengan Azisa, anak sulungnya. Kami susun perjodohan tanpa sepengetahuan Jamal. Lantas, kami sekeluarga berusaha ”menghasut” Jamal untuk memperhitungkan keberadaan Azisa, temannya sejak SMU itu.
Alhamdulillah berhasil. Hati Jamal mulai terbuka untuk Azisa sehingga saat Pak Haji Abdullah meminta dirinya menjadi menantu, ia tak punya lagi pilihan selain mengiyakan.
***
Kesediaan Jamal memang sudah didapat, namun anehnya ia tak kunjung juga menentukan tanggal pernikahan. Kali ini naluriku sebagai kakak turut bermain. Rasanya Jamal tengah menghadapi masalah yang tak dapat dibaginya kepada siapapun, termasuk Azisa. Saatnya aku menjadi kakak yang baik untuknya.
”Entahlah, Mbak. Rasanya aku tak siap untuk menikah.”
Mataku terbelalak saat Jamal mengutarakan penyebabnya.
”Apa pasal?” tanyaku agak jeri. Aku tak berani membayangkan jika Jamal tiba-tiba membatalkan perjodohan. Keluarga kami bisa menanggung malu!
”Rasanya Azisa bukan jodohku.”
Aku semakin terkesiap. Aku mulai menduga-duga arah pembicaraannya.
”Lala-kah?” tanyaku. Jamal mengangguk pelan, namun pasti.
”Sebenarnya mimpi tempo hari itu tak sekonyong datang. Aku memintanya kepada Tuhan. Aku meminta Dia memberikan petunjuk tentang jodohku kelak. Dan yang muncul ternyata Lala!”
Aku kembali terdiam. Aku benar-benar payah. Sudah setua ini, masih saja tak dapat menjadi kakak yang baik buat Jamal. Aku bingung harus menanggapi bagaimana.
”Maafkan jika selama ini Mbak tak bisa menjadi kakak yang baik, Mal. Bahkan untuk masalahmu satu ini pun Mbak tak bisa menjawab. Hanya saja, kita tak akan pernah benar-benar tahu apa yang kita yakini benar itu sebagai kebenaran, Mal. Termasuk mimpimu. Mbak tidak tahu lagi harus menganggapnya omong kosong ataukah benar-benar pertanda. Kalaulah mimpi itu pertanda, pasti banyak sekali maknanya.”
”Kamu memaknainya sebagai cinta dan jodoh, Ibu memaknainya sebagai silaturahmi dan Ayah memaknainya sebagai tipikal istri ideal bagimu. Bukankah Azisa pun tak berbeda jauh dengan Lala? Mimpi itu nisbi, Mal.”
Jamal hanya mendesah pelan sambil memandang kejauhan. Mukanya masam. Mungkin tak menghendaki aku bersikap tak mendukungnya.
”Mungkin,” lanjutku, ”ini hanya masalah cinta saja. Mungkin hatimu masih hidup dalam bayangan Lala dan tak pernah sekali pun memberi kesempatan untuk dimasuki Azisa. Kau hidup di kehidupan nyata, Mal. Sampai kapan akan menjadi pemimpi?!”
Aku tersentak oleh ucapanku sendiri. Tak kuduga akan mengucapkan ini. Bukan apa-apa. Beberapa waktu lalu kami mendengar kabar Lala menerima pinangan seseorang. Kendati menyerah, aku yakin Jamal masih memiliki cinta untuk Lala. Ia pasti sakit. Aku betul-betul kakak yang tak peka. Aku menyesal. Aku peluk Jamal, menangis sesal.
Jamal turut menangis. Isaknya berenergi kekesalan, kekecewaan, kesepian, keputus-asa-an, bahkan kesepian. Aku terenyuh. Betapa ia menderita selama ini.
“Besok kita batalkan saja perjodohan dengan Azisa, Mal. Itu lebih baik ketimbang kau tak ikhlas menjalaninya nanti. Itu katamu tentang pernikahan, ‘kan? Kita bicarakan dulu dengan Ayah dan Ibu.”
Kupikir ini yang terbaik. Tak bijak rasanya tetap berkeras melangsungkan perjodohan di saat Jamal rapuh begini. Di saat Jamal terluka dan bimbang pada perasaannya. Biarlah keluarga kami menanggung malu bersama.
“Tidak. Kita teruskan saja. Aku ikhlas menjalani sisa hidupku bersama Azisa. Mungkin aku hanya membutuhkan sedikit menangis saja. Aku pergi dulu ke rumah Pak Haji untuk membicarakan ini. Assalamu’alaikum.”
Kutatap kepergian Jamal dengan perasaan tak tentu. Kalau diingat semua ini terjadi karena mimpi. Ya, Allah apakah benar mimpi itu pertanda-Mu? Jikalau benar kenapa sulit sekali terrealisasi? Jika pun tidak benar kenapa banyak orang mempercayai?
Aku terpekur. Maafkan aku adikku. Aku hanyalah insan, yang tak mampu menerjemahkan segala misteri-Nya, bahkan yang tersurat sekalipun. Aku hanya berusaha. Dia tetap yang menentukan. Maafkan aku.
* Juara Harapan IV Lomba Menulis Cerpen Ummi 2004.
Dapatkah seseorang mencinta hanya karena sepotong mimpi? Mustahil. Namun, adikku semata wayang mengalaminya – setidaknya itu yang diakuinya.
Gadis yang dicintainya adalah Lala, adik sepupunya sendiri. Wajar, bukan? Bahkan, menjadi halal saat kedua orang tuaku kemudian berpikir untuk meminangnya.
Semua berawal dari penuturan Jamal. Ia bilang, ia memimpikan Lala sebagai gadis yang diperkenalkan Ibu kepadanya sebagai calon istrinya.
“Kami sudah saling mengenal, Bu,” kata Jamal dalam mimpi itu dengan malu-malu. Gadis itu pun mengangguk dengan senyum malu-malu pula.
Sebenarnya Jamal tidak terlalu meyakini gadis itu adalah Lala. Wajahnya samar terlihat. Namun, Jamal merasakan aura gadis itu cukuplah ia kenal. Hebatnya, ini diperkuat oleh ayah kami. Di malam yang sama, beliau bermimpi tentang Jamal yang duduk di kursi pelaminan bersama Lala! Apakah ini pertanda? Entah. Hanya saja, sejak itu aku merasakan pandangan Jamal terhadap Lala berubah.
Mereka sebenarnya teman bermain di waktu kecil, namun tak pernah bertemu lagi sejak remaja. Keluarga Lala tinggal jauh di Surabaya, sementara kami di Jakarta. Kami jarang berkumpul, bahkan saat lebaran, sehingga kenangan yang dimiliki Jamal tentang Lala adalah kenangan di masa kecil dulu sebagai abang yang kasih kepada adiknya. Kasih dimana sama sekali tak terpikirkan untuk memandang Lala sebagai gadis yang pantas dicintai, bahkan halal dinikahi. Namun, mimpi itu mampu menyulap semuanya menjadi…cinta (?).
Mari katakan aku terlalu cepat menyimpulkan sebagai cinta. Barangkali saja itu hanya pelangi yang tak kunjung sirna mengusik relung hati adikku. Pelangi yang mampu merubahnya menjadi sok melankolis hingga membuat kami sekeluarga khawatir melihat ia kerap termenung menatap kejauhan, untuk kemudian mendesah perlahan.
“Mungkin kau harus menemuinya di Surabaya,” kata Ibu.
”Rasanya tak usah, Bu. Masak hanya karena bunga tidur aku menemuinya,” jawab Jamal.
”Barangkali saja itu pertanda.”
”Bahwa Lala jodoh saya?”
”Bukan. Bahwa sudah lama kau tak mengunjungi mereka untuk bersilaturahmi. Biar nanti Mbakmu dan suaminya yang menemanimu kesana.”
Jamal tertegun sejenak untuk kemudian mengangguk.
Wah, pintar sekali Ibu membujuk. Padahal tanpa sepengetahuan adikku yang pendiam itu, Ibu menyerahi kami tugas untuk ”meminang” Lala. Ibu betul-betul yakin mimpi itu sebagai pertanda sehingga memintaku menanyakan kepada Lala tentang kemungkinan kesediaannya dipersunting Jamal.
”Kenapa tidak minta langsung saja pada Paklik? Biar mereka dijodohkan saja,” kataku waktu itu.
”Ah, adikmu itu takkan mau.”
”Tapi…”
”Sudahlah. Ibu tahu Jamal belum terlalu dewasa. Kuliah saja belum selesai. Tapi setidaknya ia memiliki penghasilan dari usaha sambilannya berdagang, ‘kan?”
“Bukan itu maksudku. Apa Ibu yakin Jamal mau dengan Lala? Barangkali saja mimpinya hanya romantisme sesaat.”
Ibu tercenung. Aku yakin Ibu belum memastikan ini. Yang beliau tahu hanya Jamal yang bertingkah aneh. Itu saja. Selebihnya ia perkirakan sendiri. Sepertinya justru Ibulah yang ngebet ingin meminang Lala.
”Kupercayakan semua itu padamu.”
Walah! Berarti tugasku berlipat-lipat! Selain memastikan kesediaan Lala, aku pun harus memastikan perasaan adikku sendiri.
***
Ia diam. Sudah kuduga reaksinya begitu jika kutanyakan tentang kemungkinan perjodohannya dengan Lala.
“Kamu mencintainya?” Aku mengganti pertanyaan. Kali ini Jamal malah terkekeh.
”Mungkin… Entahlah. Rasanya tak wajar.”
Tentu saja tak wajar! Bagiku, mencinta karena sepotong mimpi hanya omong kosong. Lagi pula Jamal tak tahu seperti apa wajah dan kepribadian Lala dewasa ini. Aku pun tak tahu.
“Santai saja, Mal. Tak usah dipikirkan. Yang penting kita tiba dulu di sana,” kata Bang Rohim, suamiku.
***
Setiba di Surabaya, kami disambut keluarga Lala hangat.
”Wah, iki Jamal tho? Oala, wis gedhe yo?!” ucap Bulik.
Jamal hanya tersenyum. Apalagi saat pipi gendutnya dijawil Bulik seperti saat ia kanak-kanak dulu.
”Mana Lala, Bulik?” tanyaku saat tak mendapati anak semata wayangnya itu.
”Ada di dapur. Sedang bikin wedhang.”
Aku segera ke dapur. Aku sungguh penasaran seperti apa Lala sekarang. Kulihat seorang gadis di sana. Subhanalah, cantiknya! Ia mencium tanganku. Hmm, santun pula. Cukup pantas untuk Jamal. Tapi, aku harus menahan diri. Kata Bang Rohim, butuh pendekatan persuasif untuk menjalankan misi ini. Aku tak yakin aku bisa sehingga menyerahkan sepenuhnya skenario kepadanya.
Tak banyak yang dilakukan Bang Rohim selain meminta Lala menjadi guide setiap kami bertiga pergi ke pusat kota. Ia melarangku membicarakan soal perjodohan, pernikahan, pinangan atau apapun istilahnya kepada Lala. Katanya, kendati kami keluarga dekat, sudah lama kami tidak saling bersua. Bisa saja Lala memandang kami sebagai ”orang asing”. Upaya melancong bersama ini demi untuk mengakrabkan kembali Jamal, Lala dan aku. Kiranya ini dapat memudahkanku saat mengutarakan maksud kedatangan kami sesungguhnya nanti.
Malam ini saat dimana aku diperbolehkan suamiku mengungkapkan semuanya kepada Lala. Seharusnya memang begitu. Tapi Jamal mendahuluiku. Tak kusangka ia serius dengan perasaannya. Ia utarakan semuanya. Tentang mimpinya, tentang jatuh cinta, bahkan tentang pinangan.
“Mungkin Dik Lala menganggap ini konyol. Abang juga merasa begitu. Tapi, setidaknya sekarang Abang yakin dengan perasaan Abang. Jadi, mau tidak kalau Lala Abang lamar?”
Bukan manusia kalau Lala tidak kaget ditembak seperti itu. Ia tampak galau. Seperti aku dulu. Sayang Lala tak merespon seperti aku merespon pinangan Bang Rohim dulu.
“Maaf, Mas. Aku terlanjur menganggapmu sebagai kakak. Rasanya sulit untuk merubahnya.”
Berakhirlah. Sampai di sini saja perjuangan kami di Surabaya. Jamal tersenyum mengerti, namun kuyakini hatinya kecewa. Cintanya yang magis tak berakhir manis. Kami pulang ke Jakarta dengan penolakan.
Sejak hari itu, Jamal tak terlihat lagi melankolis. Ia kembali sibuk dalam aktivitasnya. Adikku itu benar-benar hebat. Kendati patah hati, ia tak mau larut dalam perasaannya. Bahkan, belakangan aku tahu ia belum menyerah. Setidaknya penolakan itu berhasil mengakrabkan kembali Jamal dengan Lala. Mereka berdua kerap berkirim SMS sekedar menanyakan kabar ataupun saling bercerita. Jamal betul-betul memandang ini sebagai peluang untuk mengubah pandangan Lala terhadapnya.
Waktu kian berganti hingga masa dimana Jamal mengutarakan lagi keinginannya itu. Sayang ditolak lagi. Begitu berulang hingga tiga kali.
Ayah dan Ibu prihatin melihatnya. Mereka tak bisa berbuat banyak. Keinginan mereka untuk menjodohkan saja keduanya Jamal tolak.
”Syarat orang yang menjadi calon istriku, haruslah tulus ikhlas menjadi pendampingku. Atas kemauannya sendiri, bukan pihak lain!” Begitu alasannya selalu.
Terserahlah apa katanya. Tapi ini sudah menginjak tahun kelima Jamal memelihara cinta tak kesampaian ini. Usianya kian mendekati kepala tiga. Cukup mengherankan ia tetap memeliharanya terus. Rasanya tak layak cinta itu dipelihara terus. Ia harus diberangus. Lala bukanlah gadis terakhir yang hidup di dunia. Untuk itu Ibu, Ayah dan aku kongkalikong untuk membunuh cinta Jamal. Sudah saatnya ia mempertimbangkan gadis-gadis lain. Kebetulan ada yang mau. Pak Haji Abdullah sejak lama ingin bermenantukan Jamal dan menyandingkannya dengan Azisa, anak sulungnya. Kami susun perjodohan tanpa sepengetahuan Jamal. Lantas, kami sekeluarga berusaha ”menghasut” Jamal untuk memperhitungkan keberadaan Azisa, temannya sejak SMU itu.
Alhamdulillah berhasil. Hati Jamal mulai terbuka untuk Azisa sehingga saat Pak Haji Abdullah meminta dirinya menjadi menantu, ia tak punya lagi pilihan selain mengiyakan.
***
Kesediaan Jamal memang sudah didapat, namun anehnya ia tak kunjung juga menentukan tanggal pernikahan. Kali ini naluriku sebagai kakak turut bermain. Rasanya Jamal tengah menghadapi masalah yang tak dapat dibaginya kepada siapapun, termasuk Azisa. Saatnya aku menjadi kakak yang baik untuknya.
”Entahlah, Mbak. Rasanya aku tak siap untuk menikah.”
Mataku terbelalak saat Jamal mengutarakan penyebabnya.
”Apa pasal?” tanyaku agak jeri. Aku tak berani membayangkan jika Jamal tiba-tiba membatalkan perjodohan. Keluarga kami bisa menanggung malu!
”Rasanya Azisa bukan jodohku.”
Aku semakin terkesiap. Aku mulai menduga-duga arah pembicaraannya.
”Lala-kah?” tanyaku. Jamal mengangguk pelan, namun pasti.
”Sebenarnya mimpi tempo hari itu tak sekonyong datang. Aku memintanya kepada Tuhan. Aku meminta Dia memberikan petunjuk tentang jodohku kelak. Dan yang muncul ternyata Lala!”
Aku kembali terdiam. Aku benar-benar payah. Sudah setua ini, masih saja tak dapat menjadi kakak yang baik buat Jamal. Aku bingung harus menanggapi bagaimana.
”Maafkan jika selama ini Mbak tak bisa menjadi kakak yang baik, Mal. Bahkan untuk masalahmu satu ini pun Mbak tak bisa menjawab. Hanya saja, kita tak akan pernah benar-benar tahu apa yang kita yakini benar itu sebagai kebenaran, Mal. Termasuk mimpimu. Mbak tidak tahu lagi harus menganggapnya omong kosong ataukah benar-benar pertanda. Kalaulah mimpi itu pertanda, pasti banyak sekali maknanya.”
”Kamu memaknainya sebagai cinta dan jodoh, Ibu memaknainya sebagai silaturahmi dan Ayah memaknainya sebagai tipikal istri ideal bagimu. Bukankah Azisa pun tak berbeda jauh dengan Lala? Mimpi itu nisbi, Mal.”
Jamal hanya mendesah pelan sambil memandang kejauhan. Mukanya masam. Mungkin tak menghendaki aku bersikap tak mendukungnya.
”Mungkin,” lanjutku, ”ini hanya masalah cinta saja. Mungkin hatimu masih hidup dalam bayangan Lala dan tak pernah sekali pun memberi kesempatan untuk dimasuki Azisa. Kau hidup di kehidupan nyata, Mal. Sampai kapan akan menjadi pemimpi?!”
Aku tersentak oleh ucapanku sendiri. Tak kuduga akan mengucapkan ini. Bukan apa-apa. Beberapa waktu lalu kami mendengar kabar Lala menerima pinangan seseorang. Kendati menyerah, aku yakin Jamal masih memiliki cinta untuk Lala. Ia pasti sakit. Aku betul-betul kakak yang tak peka. Aku menyesal. Aku peluk Jamal, menangis sesal.
Jamal turut menangis. Isaknya berenergi kekesalan, kekecewaan, kesepian, keputus-asa-an, bahkan kesepian. Aku terenyuh. Betapa ia menderita selama ini.
“Besok kita batalkan saja perjodohan dengan Azisa, Mal. Itu lebih baik ketimbang kau tak ikhlas menjalaninya nanti. Itu katamu tentang pernikahan, ‘kan? Kita bicarakan dulu dengan Ayah dan Ibu.”
Kupikir ini yang terbaik. Tak bijak rasanya tetap berkeras melangsungkan perjodohan di saat Jamal rapuh begini. Di saat Jamal terluka dan bimbang pada perasaannya. Biarlah keluarga kami menanggung malu bersama.
“Tidak. Kita teruskan saja. Aku ikhlas menjalani sisa hidupku bersama Azisa. Mungkin aku hanya membutuhkan sedikit menangis saja. Aku pergi dulu ke rumah Pak Haji untuk membicarakan ini. Assalamu’alaikum.”
Kutatap kepergian Jamal dengan perasaan tak tentu. Kalau diingat semua ini terjadi karena mimpi. Ya, Allah apakah benar mimpi itu pertanda-Mu? Jikalau benar kenapa sulit sekali terrealisasi? Jika pun tidak benar kenapa banyak orang mempercayai?
Aku terpekur. Maafkan aku adikku. Aku hanyalah insan, yang tak mampu menerjemahkan segala misteri-Nya, bahkan yang tersurat sekalipun. Aku hanya berusaha. Dia tetap yang menentukan. Maafkan aku.
* Juara Harapan IV Lomba Menulis Cerpen Ummi 2004.
mau...? Sahabat sendiri Jadi Pacarmu....
nic dia tips Membuat Sahabat Jadi Pacar. Sahabat selalu ada buat kita, banyak yang bilang sahabat lebih baik dari cinta. Tapi bagaimana kalo sahabat jadi cinta? atau ingin seorang sahabat jadi pacar.
Selama ini kamu curhat-curhatan tentang pacar masing-masing. Setelah sama-sama putus, kamu menyadari ada rasa yang aneh kalo ketemu sama dia. Naksir sahabat sendiri?
Berikut tips supaya status sahabat bisa berubah jadi PACAR :
Apakah sahabatmu lagi suka sama seseorang atau gak. Begitu juga kalo sahabatmu baru aja putus sama pacarnya. Pastiin kalo dia udah benar-benar lepas dari bayang-bayang masa lalunya. Setelah aman, baru kamu bisa bergerak maju.
Ini cukup penting, karena biasanya cowok bisa mundur gara-gara cewek yang disukainya masih teringat-ingat mantan. Biarin dia tau, kalo kamu udah siap untuk memulai kisah cinta yang baru.
Untuk lebih dekat lagi dengannya, berikan perhatianmu dan biarkan dia tau kalo kamu peduli padanya. Kamu bisa mulai dengan memberikan pemberian-pemberian kecil, seperti playlist CD atau sekedar perhatian pada saat dia sakit.
Kalo biasanya kamu pergi rame-rame, kali ini ajak dia nonton berdua aja. Gak usah menyebutnya dengan kencan. Anggap aja kalian emang biasa punya kegiatan berdua. Nah, kalo minggu berikutnya dia yang ngajak pergi berdua, lanjut lagi kamu yang ngajak, selanjutnya secara gak sadar kamu udah seperti orang pacaran.
Kamu bisa SMS'an atau ngobrol di BBM dengannya. Gak usah berlebihan, tapi yang penting ada percakapan antara kalian berdua setiap hari, supaya semakin dekat.
Tetep jadi orang yang selama ini udah dikenalnya. Ini akan membuatnya semakin nyaman untuk berada disekitarmu.
Kalo udah siap, ini waktunya kamu mengungkapkan segala perasaan yang kamu rasakan selama ini. Jangan disimpan terlalu lama dan jangan ditunda-tunda. Semakin cepat kamu mengungkapkannya, akan semakin baik.
Itulah sedikit Tips Membuat Sahabat Jadi Pacar, buat kamu yang naksir sama sahabat sendiri. Apakah kamu siap merubah hubungan sahabat jadi cinta?
good luck....moga berasil......hehehehe
Selama ini kamu curhat-curhatan tentang pacar masing-masing. Setelah sama-sama putus, kamu menyadari ada rasa yang aneh kalo ketemu sama dia. Naksir sahabat sendiri?
Berikut tips supaya status sahabat bisa berubah jadi PACAR :
1. Hal pertama yang harus kamu cari tau
Apakah sahabatmu lagi suka sama seseorang atau gak. Begitu juga kalo sahabatmu baru aja putus sama pacarnya. Pastiin kalo dia udah benar-benar lepas dari bayang-bayang masa lalunya. Setelah aman, baru kamu bisa bergerak maju.
2. Ceritakan kalo kamu udah melupakan masa lalu
Ini cukup penting, karena biasanya cowok bisa mundur gara-gara cewek yang disukainya masih teringat-ingat mantan. Biarin dia tau, kalo kamu udah siap untuk memulai kisah cinta yang baru.
3. Berikan sinyal-sinyal kalo kamu tertarik
Untuk lebih dekat lagi dengannya, berikan perhatianmu dan biarkan dia tau kalo kamu peduli padanya. Kamu bisa mulai dengan memberikan pemberian-pemberian kecil, seperti playlist CD atau sekedar perhatian pada saat dia sakit.
4. Ajak pergi berdua
Kalo biasanya kamu pergi rame-rame, kali ini ajak dia nonton berdua aja. Gak usah menyebutnya dengan kencan. Anggap aja kalian emang biasa punya kegiatan berdua. Nah, kalo minggu berikutnya dia yang ngajak pergi berdua, lanjut lagi kamu yang ngajak, selanjutnya secara gak sadar kamu udah seperti orang pacaran.
5. Jangan lupa untuk intens mengirim SMS
Kamu bisa SMS'an atau ngobrol di BBM dengannya. Gak usah berlebihan, tapi yang penting ada percakapan antara kalian berdua setiap hari, supaya semakin dekat.
6. Tetap jadi dirimu sendiri
Tetep jadi orang yang selama ini udah dikenalnya. Ini akan membuatnya semakin nyaman untuk berada disekitarmu.
7. Mengungkapkan perasaan kamu
Kalo udah siap, ini waktunya kamu mengungkapkan segala perasaan yang kamu rasakan selama ini. Jangan disimpan terlalu lama dan jangan ditunda-tunda. Semakin cepat kamu mengungkapkannya, akan semakin baik.
Itulah sedikit Tips Membuat Sahabat Jadi Pacar, buat kamu yang naksir sama sahabat sendiri. Apakah kamu siap merubah hubungan sahabat jadi cinta?
good luck....moga berasil......hehehehe
Cintaku Sayang Jelita Bintangku
Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.
Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.
Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.
Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.
Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.
Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.
Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.
Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.
Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.
Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,
" Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, " lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !
Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.
Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.
Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.
Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.
Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, " Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?"
Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,
Dear Meisha,
Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.
Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. . Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.
Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.
Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.
yours,
Mario
----------------
Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat.. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.
Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.
Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.
Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju.. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.
Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.
Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.
**********
Setahun kemudian…
Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.
" Mario, suamiku….
Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..
Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.
Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, " kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?"
Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.
Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.
Istrimu,
Rima"
Di surat yang lain,
"………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……"
Disurat yang kesekian,
"…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.
Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….
Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya…….."
Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.
Disurat terakhir, pagi ini…
"…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.
Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.
Tahukah engkau suamiku,
Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………"
Jelita menatap Meisha, dan bercerita,
" Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……" Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.
Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.
Dear Meisha,
Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?
Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….
Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.
Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.
Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.
Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.
Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.
Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.
Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.
Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.
Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.
Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,
" Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, " lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !
Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.
Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.
Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.
Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.
Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, " Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?"
Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,
Dear Meisha,
Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.
Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. . Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.
Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.
Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.
yours,
Mario
----------------
Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat.. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.
Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.
Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.
Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju.. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.
Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.
Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.
**********
Setahun kemudian…
Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.
" Mario, suamiku….
Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..
Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.
Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, " kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?"
Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.
Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.
Istrimu,
Rima"
Di surat yang lain,
"………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……"
Disurat yang kesekian,
"…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.
Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….
Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya…….."
Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.
Disurat terakhir, pagi ini…
"…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.
Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.
Tahukah engkau suamiku,
Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………"
Jelita menatap Meisha, dan bercerita,
" Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……" Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.
Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.
Dear Meisha,
Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?
Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….
Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.
Langganan:
Komentar (Atom)








